Selasa, 06 Januari 2015


Beberapa hari terakhir ini perusahaan-perusahan telekomunikasi mulai gencar memasarkan produknya dengan embel-embel menggunakan layanan LTE, 4G atau 4G LTE. Mereka mengklaim kecepatan internet yang sangat cepat akan kita dapatkan ketika menggunakan jaringan ini. Sebagai konsumen tentu saja kita senang dengan hal ini, apalagi jika dibarengi dengan penurunan tarif. *ngarep

FYI, LTE merupakan singkatan dari Long-Term Evolution, umumnya lebih kita kenal dengan sebutan 4G. LTE pada dasarnya merupakan pengembangan dari teknologi jaringan GSM/EDGE dan UMTS/HSPA dengan penambahan kapasitas, kecepatan dan penggunaan frekuensi radio yang berbeda. Dalam pengembangannya LTE dikembangkan oleh 3GPP (3rd Generation Partnertship Project).

Disebut-sebut memiliki kecepatan yang sangat cepat karena secara teoritis LTE memiliki downlink maksimal 300Mbps dan uplink maksimal 75Mbps. Karena 1 byte = 8 bit maka akan diperoleh kecepatan download dan upload maksimal 37,5 MB/s dan 9,375 MB/s. Dengan kecepatan seperti itu kita dapat men-download file berukuran 100MB hanya dalam 3 detik. Kemudian tak akan lebih dari 20 detik waktu yang diperlukan untuk meng-upload kembali file tersebut ke internet.

Di Indonesia tercatat sejumlah operator seluler belum lama ini telah meluncurkan layanan 4G LTE, diantaranya adalah Telkomsel, Indosat, dan XL. Namun sayangnya layanan ini belum mencakup seluruh wilayah di Indonesia. Sementara ini 4G LTE hanya dapat dinikmati di beberapa kota-kota besar. Jadi ketika ingin menggunakan jaringan 4G LTE pastikan bahwa daerah kita merupakan daerah yang telah ter-cover. Selain itu pastikan pula bahwa perangkat yang kita gunakan telah mendukung layanan 4G LTE.

Dengan layanan 4G LTE diharapkan dapat mengatasi tingginya permintaan internet dengan kecepatan tinggi. Kemudian dengan seiring berjalanannya waktu kita berharap layanan ini dapat menjangkau seluruh pelosok dari Sabang sampai Merauke. Sehingga penduduk Indonesia dimanapun tempat tinggalnya dapat menikmati Internet berkecepatan tinggi layaknya di kota-kota besar. Amiin.


Oleh : Rizqy Nurhaqy

Posted by Unknown On 02.17 No comments READ FULL POST

Selasa, 07 Oktober 2014

Radang telinga?
Otitis Media atau yang biasa kita kenal dengan Congek adalah peradangan (inflamasi) pada telinga bagian tengah. Diduga penyebabnya adalah obstruksi tuba Eustachius dan sebab sekunder yaitu menurunnya imunokompetensi (kemampuan tubuh untuk kebal terhadap penyakit) yang berkaitan dengan adanya infeksi saluran napas atas dan alergi. Infeksi ini biasanya terjadi akibat kelakuan kita yang sering membersihkan telinga dengan cara yang tidak tepat, misalnya mengorek-ngorek telinga dengan benda tajam, sehingga menyebabkan telinga bagian tengah menjadi luka, kemudian beberapa bakteri dan virus dapat bersarang di sana. Dapat pula terjadi karena alegi terhadap cuaca yang mengakibatkan ingusan yang apabila tidak kita keluarkan dan dihirup lagi, akan menyebabkan beberapa bakteri yang dibawanya mampu melewati tuba Eustachius ini. Sistem kekebalan tubuh kita akan berusaha melawannya dan merelakan sel darah putih, sehingga terbentuklah nanah.

Streptococcus pneumonia, Hemophilus influenza, dan Moraxella catarrhalis merupakan bakteri yang paling sering menyebabkan penyakit ini, selain bakteri Streptococcus pyogenes, Staphylococcus aureus, dan Pseudomonas aeruginosa. Tetapi virus seperti respiratory syncytial virus, influenza virus, rhinovirus, adenovirus yang terisolasi di cairan telinga tengah dengan atau tanpa bakteri, tejadi lebih dari setengah dari kasus penyakit ini. Sehingga menyebabkan antibiotik sulit menangani keadaan ini.


Mengapa anak-anak lebih mudah terserang otitis media dibanding orang dewasa?
i)  Sistem kekebalan tubuh anak masih dalam perkembangan.
ii)  Saluran Eustachius pada anak lebih lurus secara horizontal dan lebih pendek sehingga ISPA
lebih mudah menyebar ke telinga tengah.
iii)  Adenoid (adenoid: salah satu organ di tenggorokan bagian atas yang berperan dalam kekebalan tubuh) pada anak relatif lebih besar dibanding orang dewasa. Posisi adenoid berdekatan
dengan muara saluran Eustachius, sehingga adenoid yang besar dapat mengganggu terbukanya
saluran Eustachius. Selain itu adenoid sendiri dapat terinfeksi di mana infeksi tersebut
kemudian menyebar ke telinga tengah lewat saluran Eustachius.


Bagaimana gejalanya?
Secara umum, gejala Otitis Media dibagi berdasarkan jenisnya, dimana pada otitis media akut ditandai dengan gejala yang muncul cepat seperti: nyeri pada telinga, gangguan pendengaran, pusing, demam, gangguan keseimbangan, dan gelisah. Otitis efusi adalah penumpukan cairan di ruang telinga tengah tanpa gejala penyakit akut. Sedangkan otitis media kronik adalah infeksi menahun pada telinga tengah, terjadi akibat adanya lubang pada gendang telinga (perforasi). Nyeri jarang dijumpai pada otitis kronik, dan dapat menyebabkan hilangnya pendengaran.

Apakah menular? Bagaimana caranya? Dan apa saja faktor resikonya?
Otitis media atau congek ini adalah salah satu penyakit menular dan oleh karena sebagian besar otitis media didahului oleh infeksi pernapasan atas, maka metode penularan adalah sama seperti pada infeksi pernapasan tersebut.
Adapun faktor resiko dari penyakit ini adalah sebagai berikut:
a. Abnormalitas anatomi: celah langit-langit mulut biasanya disebut dengan sumbing.
b. Musim dingin
c. Hipertropi adenoid (pembesaran tonsil).
d. Down syndrome
e. Infeksi saluran napas pernapasan di keluarga
f. Ras kulit putih
g. Menderita infeksi pertama pada usia muda.

Cara Mengobatinya?
a. Terapi Pokok
Terapi otitis media akut meliputi pemberian antibiotika oral dan tetes, bila disertai pengeluaran sekret. Lama terapi adalah 5 hari bagi pasien risiko rendah (yaitu usia > 2 tahun serta tidak memiliki riwayat otitis ulangan ataupun otitis kronik) dan 10 hari bagi pasien risiko tinggi.
Antibiotika yang digunakan dibagi menjadi dua pilihan yaitu lini pertama dan kedua. Antibiotika pada lini kedua diindikasikan bila:
1. Antibiotika pilihan pertama gagal
2. Riwayat respon yang kurang terhadap antibiotika pilihan pertama
3. Hipersensitivitas
4. Organisme resisten terhadap antibiotika pilihan pertama yang dibuktikan dengan tes sensitifitas
5. Adanya penyakit penyerta yang mengharuskan pemilihan antibiotika pilihan kedua.
Untuk pasien dengan sekret telinga (otorrhea), maka disarankan untuk menambahkan terapi tetes telinga Ciprofloxacin atau Ofloxacin.
Pilihan terapi untuk otitis media akut yang persisten yaitu otitis yang menetap 6 hari setelah menggunakan antibiotika, adalah memulai kembali antibiotika dengan memilih antibiotika yang berbeda dengan terapi pertama. Profilaksis bagi pasien dengan riwayat otitis media ulangan menggunakan amoksisilin 20 mg/kg satu kali sehari selama 2-6 bulan berhasil mengurangi insiden otitis media sebesar 40-50 %.


b. Terapi Penunjang
Terapi penunjang dengan analgesik dan antipiretik memberikan kenyamanan khususnya pada anak. Terapi penunjang lain dengan menggunakan dekongestan, antihistamin, dan kortikosteroid pada otitis media akut tidak direkomendasikan, mengingat tidak memberikan keuntungan namun justru meningkatkan risiko efek samping.
Dekongestan dan antihistamin hanya direkomendasikan bila ada peran alergi yang dapat berakibat kongesti pada saluran napas atas. Sedangkan kortikosteroid oral mampu mengurangi efusi pada otitis media kronik lebih baik daripada antibiotik tunggal. Penggunaan Prednisone 2 x 5 mg selama 7 hari bersama-sama antibiotika efektif menghentikan efusi.



Referensi
Dipiro. Joseph T., et all. 2008. Pharmacoteraphy Principle and Practice. The McGraw-Hill Companies, Inc. United States.
Direktorat Bina Farmasi Komunitas Dan Klinik. 2005. Pharmaceutical Care untuk Penyakit Infeksi Saluran Napas. Departemen Kesehatan RI. Jakarta.
Sukandar, Elin Y., dkk. 2008. ISO Farmakoterapi. PT. ISFI. Jakarta.
Posted by Unknown On 03.11 No comments READ FULL POST

Senin, 08 September 2014

Tidak semua yang kelihatannya buruk benar-benar negatif, dan sebaliknya yang kelihatan baik benar-benar positif. Dalam banyak hal dampak positif dan negatif menjadi satu kesatuan. Maka betapa penting untuk mengetahui tentang akibat dari apa yang kita kerjakan, apalagi ini menyangkut kebiasaan, sesuatu yang diulang-ulang. Bukankah kita selalu ingin yang baik-baik dan sebisa mungkin terhindar dari yang buruk?
So, Let's read!

1. Penggunaan Hand Sanitizer (gel pembersih tangan)
Banyak orang memutuskan untuk menggunakan hand sanitizer sebagai pembunuh bakteri. Kebiasaan ini dianggap sama dengan menggunakan air bahkan melebihi, seperti yang sering ditemukan di iklan-iklan. Tetapi, terlalu sering menggunakannya ternyata dapat menyebabkan beberapa dampak buruk, diantaranya bagi kulit yang sensitif menjadi lebih rentan terhadap iritasi, hal ini terjadi pada pemakaian hand sanitizer yang mengandung alkohol dengan kadar tinggi. Selain itu, Menurut Richard Gallo, MD, PhD, kepala divisi Dermatology at the University of California, San Diego, dalam sebuah penelitian terbaru dijelaskan bahwa cairan pembersih atau gel sanitasi mengandung triklosan dapat membuat bakteri menjadi kebal dan berkembang lebih cepat. 

2. Berganti-ganti produk perawatan kulit

Hasil yang tidak instan membuat banyak orang cenderung berpindah dari satu produk ke produk lain, pun berlaku untuk perawatan wajah. Padahal, seperti yang dikemukakan dermatolog Jody Levine, dibutuhkan setidaknya enam hingga delapan minggu untuk melihat hasil dari sebuah produk perawatan. Terlalu sering berganti produk perawatan justru dapat membuat kulit menjadi merah, meradang, dan lebih sensitif terhadap produk lain.

3. Penggunaan High Heels
High heels digunakan untuk menunjang penampilan banyak wanita, tetapi beberapa dampak buruk yang ditemukan bila penggunaannya terlalu sering, diantaranya otot tubuh mengecil, hal ini disebabkan karena high heels mendorong untuk berjalan jinjit. Selain itu, dapat menyebabkan perubahan pada pinggul dan tulang belakang menjadi tidak sejajar, inilah yang menyebabkan tubuh terlihat melengkung. Penggunaan hak tinggi yang sering dengan ketinggian yang berlebih akan mengakibatkan penebalan jaringan saraf pada jari kaki ketiga dan keempat, sehingga menimbulkan rasa nyeri pada jari kemudian memicu tumor jinak. Pada ibu hamil akibat adanya peningkatan hormon relaxin yang dihasilkan dari indung telur maka ketika memaksakan untuk menggunakan sepatu hak tinggi dikhawatirkan akan mengakibatkan sakit punggung. Keseimbangan karena peningkatan berat badan ketika hamil ditakutkan akan mempengaruhi cara jalan sehingga mengakibatkan keseleo.

4. Menggunakan sandal jepit (flip flop)
Tidak hanya penggunaan High heels yang dapat berdampak negatif, penggunaan sandal jepit pun demikian bila terlalu sering. Seperti yang dikemukakan oleh Jordana Szpiro, seorang podiatrist di Boston bahwa "Flip-flop atau sandal yang tidak memberi dukungan pada struktur kaki, dapat menyebabkan patah tulang karena kaki menjadi tegang sebab mencoba menahan berat badan Anda." Selain itu, saat mengenakan sandal jepit, otot-otot pada bagian depan tulang kering (tibialis anterior) bekerja lebih keras daripada ketika kita bertelanjang kaki karena jari-jari kaki mencoba menahan sandal supaya tidak "bergerak" ke mana-mana. Oleh karena itu, ada baiknya jika Anda memilih sandal jepit dengan penutup tumit, bertali besar serta memiliki lengkungan pada telapak kaki (mengikuti kontur telapak kaki).

5. Menggosok Gigi Setelah Makan
Kita tahu bersama bahwa menyikat gigi dapat menjaga kesehatan gigi dan mulut. Tetapi, menurut Greg Diamond, DDS, seorang periodontist di New York, bila hal ini dilakukan setelah makan, dapat menyebabkan lapisan email gigi rapuh. Ia hanya menyarankan untuk membilas mulut dengan air. Menggosok gigi hanya perlu dilakukan dua kali sehari, yaitu pada pagi dan malam hari. Selain itu, ketika menyikat gigi, pastikan melakukannya dengan gerakan melingkar, bukan atas-bawah atau kanan-kiri. Dengan begitu, bakteri berbahaya yang ada di antara gigi dan gusi dapat hilang lebih banyak dan tidak melukai gusi. 

6. Hanya melakukan kardio ketika berolahraga.
Cara terbaik untuk menurunkan berat badan memang dengan melakukan kardio seperti berlari atau bersepeda. Namun, menurut terapis fisik Josep Ciccone, melakukan hanya olahraga kardio berulang bisa membuat otot tegang hingga terluka. Yang lebih sehat, katanya lagi, adalah dengan menggabungkan beberapa jenis olahraga dalam setiap latihan.


7. Mengkonsumsi suplemen nutrisi. 
Profesor dari Georgia State University Christine Rosenblom mengatakan kebanyakan orang mengkonsumsi beberapa suplemen sekaligus tanpa tahu dengan benar fungsinya. Padahal, suplemen memiliki efek samping yang cukup serius jika dikonsumsi berlebihan. Beberapa efek berbahaya yang tumbuh adalah vitamin A yang bisa mengganggu pertumbuhan janin, vitamin C yang mengakibatkan gangguan pencernaan, dan vitamin B6 yang dapat merusak syaraf.

Jadi, mari lebih bijak dan jangan belebihan dalam melakukan sesuatu. ^_^

Sumber :
http://wolipop.detik.com
http://health.liputan6.com
http://www.cosmopolitan.co.id
http://www.tempo.co.
http://www.iniunik.web.id
http://bidanku.com


Posted by Unknown On 17.24 No comments READ FULL POST

Rabu, 03 September 2014

290913, aku berusaha menahan kelopak mataku yang berkali-kali jatuh mengatup. Berkomat-kamit apa saja, melirik ke kanan dan ke kiri untuk melatih otot mata berharap sadar segera menyergap. Tapi rasa ini terus memburu. Aku antara sadar dan tidak. Lalu pundakku dibelai lembut seorang teman, tersenyum tulus, meski wajahnya tampak sama, mengantuk.

Setelah kurang lebih 6 tahun lamanya tempat seperti ini tidak kujamah lagi. Aktivitas seperti ini dalam sebulan bahkan bisa dihitung jari. Kemarin takdir ini berlaku, membuat memoriku terkulai, terhampar satu-satu di dalam benak, di setiap langkah dan kejadian yang tercipta, tak jauh beda.

Pesantren, menjadi santri lagi.

Hawa ini kembali merasuk, perasaan yang kusuka, yang sering membawa aku ke ruang rindu. Bila sebelum-sebelumnya jejaring sosial menjadi teman bermalam minggu yang paling setia, maka malam ini tidak. Ada rasa di dada yang bergejolak lompat ketika bergabung menjadi salah satu diantara 183 orang di tempat ini. Tujuan, impian, dan harapan kita mungkin berbeda. Tapi tentu saja, tempat seperti ini akan memaksa diri-diri kita untuk menjadi lebih baik. Seperti kata guru, “Ada banyak pemuda-pemudi di luar sana, kuantitas waktunya boleh sama, tapi kualitasnya yang membedakan.”

Aku masih terduduk, suara itu mengalun dengan lembutnya sama seperti minggu lalu di tempat yang sama, iqamah, seperti disetting otomatis, aku ikut bangkit dari tempatku. Walau memang langkah kaki berat, sungguh sangat malas, kewajiban mengantarkanku ke tempat ini lagi, Tahajjud hingga waktu Subuh datang. Berdiri bershaf lurus dengan jemaah lainnya. Memulai dengan niat, dan beginilah lagi, tes…tes…satu satu air mataku jatuh menggenangi mukena, deras sekali. Sungguh, aku tak tahu apa yang terjadi, hanya saja yang kurasakan seluruh tubuhku menggigil takut, merasa hina, kerdil. Ayat-ayat yang dilantunkan sang imam begitu jelas memamntul-mantul di gendang telinga, menyusup pelan ke dalam dada. Perasaan apa ini? Sedih yang menentramkan. Dan kantuk yang tak tertahan tadi, menguap entah kemana. Aku asyik “sendiri”.

Malam ahad, menjelang subuh. Ritual ini menjadi kewajiban kita, para calon SANTRI SIAP GUNA. Pelatihan yang diadakan Sabtu-Ahad ini adalah kegiatan baruku. Ringan, tapi memang penuh godaan. Bermanfaat, tapi memang penuh tantangan. Bagi yang tidak terbiasa, maka bersusah-susah dahulu sepertinya memang pembuka jalan untuk memperoleh kedamaian yang luar biasa ini.

Dan ketika hal ini menjadi bagian dari diri, sesuatu yang diistiqomahkan. Maka bersiaplah dengan sensasi kesejukan hati yang luar biasa nikmatnya. Apalagi diimami dengan suara merdu yang jelas sekali pelafalannya, meski tak semua arti dari ayat-ayat yang dilantunkan itu bisa kupahami dengan baik, indahnya firman Allah merasuk ke hati. Itulah mungkin sebabnya, menjadi imam itu perlu yang terbaik dari yang ada.

Waktu berganti, diklat pun usai. Entah mengapa, rasanya ada yang ikut hilang bersamaan dengan kawan seperjuangan yang mulai sibuk satu-satu ke aktivitas semula. Tak ada lagi malam dimana kita saling membangunkan, menyapu lembut pundak teman yang terkantuk. Kemana shaf-shaf itu, dimana kakiku dan kakimu bersentuhan, rapat, menunduk, hening bersama? Masihkah kita menyapaNya meski tak diimami? Masihkah ada bulir-bulir bening dari mata yang jatuh menggenang di pipi? Atau masihkah kita berhasil mengalahkan kantuk yang menyergap untuk bertemu sang Maha? Ya, bahkan mungkin sekedar niat, apakah masih terbit di hati-hati kita? Masihkah kita istiqomah?


Ah...aku rindu. Kuharap ini bukan rasa kepunyaanku saja. Semoga kau pun merindu. Tahajjud kita. Lalu sepertiga malam sebentar kita bangun sama-sama, meski tak bersama. 

sumber gambar: http://www.tipspengetahuan.com.

Posted by Unknown On 08.04 No comments READ FULL POST

Selasa, 02 September 2014

Seperti yang kita tahu bersama bahwa di dunia ini, Allah menciptakan berbagai macam keseimbangan yang sedemikian rupa untuk memakmurkan kehidupan makhluk-Nya. Hanya saja, dengan berbagai macam ulah tangan manusia pula, kadang justru manusia itu sendiri yang menciptakan kerugian bagi lingkungan, terlebih bagi diri sendiri.

Contoh paling sederhana adalah memulai dan mengistiqomahkan kebiasaan buruk yang berakibat fatal bagi kesehatan. Melalui konsumsi makanan dan minuman yang tidak sehat, olahraga yang tidak teratur (mungkin jarang bergerak), mudah stress, dll dapat menjadi pintu gerbang masuknya berbagai macam penyakit. Hal ini bisa diakbibatkan oleh ketidakseimbangan asam dan basa di dalam tubuh.

Hubungan antara asam dan basa secara sains diukur dalam skala 1 sampai 14, dikenal dengan “pH". Pada skala tersebut, 7 adalah netral, di bawah 7 adalah asam, dan di atasnya adalah basa. Secara teknis, pH merefleksikan konsentrasi ion hidrogen (molekul bermuatan positif).

Keadaan seimbang antara asam dan basa tubuh diperlukan agar bagian-bagian tubuh dapat menjalankan fungsinya sebagaimana mestinya, dengan kebutuhan akan pH yang berbeda-beda. Misalnya, darah dan jaringan harus agak basa, bagian usus besar harus sedikit asam, dsb.

Meskipun tubuh manusia pada dasarnya akan mempertahankan kondisinya agar tetap berada dalam keadaan seimbang, namun ada konsekuensi yang harus kita bayar atas kerusakan yang sudah kita buat tersebut. Pada tahap awal ketidakseimbangan gejala yang timbul tidak terlalu intens seperti ruam kulit, kelelahan, sakit kepala, alergi, daya tahan tubuh lemah, demam dan flu atau masalah sinus. Saat keadaan makin parah, kondisi yang lebih serius muncul. Organ dan sistem melemah, disfungsi kelenjar tiroid, adrenalin, hati dan sebagainya, pertanda bahwa memang tubuh melewati ambang batas tolerirnya.

Hal ini terjadi karena demi mengatur keseimbangan tersebut, darah akan menarik mineral basa, seperti natrium, kalium, kalsium, dan magnesium dari jaringan kita sebagai kompensasi. Saat mineral-mineral ini bereaksi dengan asam, akan menghasilkan substansi yang tidak terlalu menggangu, yang kemudian akan dibuang oleh tubuh.

Tubuh yang sehat akan menjaga cadangan suplai mineral-mineral tersebut untuk keperluan darurat. Namun bila tidak tersedia dalam jumlah cukup, maka mineral-mineral ini akan diambil dari tempat lain seperti tulang, otot, dll.

Jika kelebihan asam menjadi terlalu besar untuk diseimbangkan oleh darah, kelebihan asam tersebut akan dibuang ke dalam jaringan untuk disimpan. Kemudian, sistem limfatik (imunitas) harus menetralkannya dan membuang sisanya. Namun, membuang asam dari jaringan ternyata berarti membuangnya kembali ke dalam darah, menghasilkan sebuah siklus yang justru akan menarik lebih banyak mineral-mineral basa dari fungsi normalnya, dan membebani hati dan ginjal. Lebih jauh lagi, jika sistem limfa kelebihan beban atau tidak befungsi dengan sempurna, maka asam akan menumpuk dalam berbagai sistem organ seperti jantung, pankreas, hati, dan usus besar, atau disimpan dalam jaringan lemak, termasuk dada, pinggul, paha, perut, dan otak.
Sakit yang akut atau berulang adalah hasil dari usaha tubuh memobilisasi cadangan mineral untuk mencegah kerusakan sel.

Lebih parahnya lagi, bahwa mikroorganisme seperti bakteri dan jamur yang awalnya berada dalam tubuh dalam jumlah yang sewajarnya (flora normal) bisa jadi berkembang dengan pesat dan menyebabkan berbagai kerusakan. Hal ini karena makhluk-makhluk ini gemar pada kondisi tingkat oksigen yang redah yang disebabkan oleh keasaman.

So, solusi untuk mencegah semua masalah kesehatan ini adalah dengan menyeimbangkan pH darah dan jaringan melalui suplei nutrisi yang benar, pola makan makan dan olahraga yang teratur, serta spiritual yang baik.

Mencegah lebih baik daripada mengobati! ^_^

Sumber : buku "The pH Miracle" by Robert O.Young
Posted by Unknown On 16.00 No comments READ FULL POST

Minggu, 24 Agustus 2014


Betapa sering kita abai terhadap hal-hal kecil yang kita anggap remeh tapi sebenarnya penting, awal dari banyak hal besar. Sesuatu yang mungkin kita tak acuh karena merasa dampaknya tak terlihat. Padahal beberapa hal justru semakin awet rasanya saat orientasinya bukan hal-hal yang bisa dicerna oleh mata, dijudge pertama oleh yang terlihat. Seperti Kebaikan, ketulusan.



Unsung Hero. Iklan asuransi dari Thailand ini sudah dikunjungi lebih dari 19juta pasang mata di youtube. Mungkin bukti bahwa manusia memang senang benar dengan namanya kebaikan.

Tak semua orang seberuntung kita, dan tentu kita juga bukan makhluk sempurna yang bisa melakukan semuanya sendirian. Kita bermain di atas pentas yang sama dengan berbagai peran berbeda tapi saling mendukung. Yang kaya butuh yang miskin, yang miskin butuh si kaya, yang lemah butuh si kuat, yang kuat pun sebaliknya. Ayah, Ibu, Nenek, Kakek, Kakak, Adik, dan seluruh penduduk bumi memang diciptakan sebagai makhluk sosial. Yang kesosialannya tidak melulu bisa diukur dengan sesuatu yang nampak, tapi juga dapat terpenuhi melalui kelapangan hati, kebahagiaan yang diperoleh.

Bahkan video ini bukan hanya sekedar menggambarkan keterkaitan manusia satu dengan yang lain, tapi lebih luas kepada tanaman, hewan, sekitarnya. Menampilkan bahwa kebaikan bukan hanya dapat dirasakan manfaatnya oleh manusia. Ia-nya menyapu bersih seluruh alam.

Ah, bukankah kita terlalu senang dengan kepopuleran? Ingin dibilang "sebagai", selalu ingin tampil, dipuji, disanjung, senang membuat kepala "besar-besar". Naluri? Ya, mungkin memang demikian. Tapi percayakah kita bahwa banyak hal yang justru karena tidak terekspos, tidak ditujuk-tunjukkan, dipamerkan, dicerita kanan kiri, kemana-kemana, malah menambah nilai plusnya. Ianya menjaga kesucian si niat, tetap bernama "kebaikan" bukan berganti menjadi "modus".

Saat kita berbuat bukan tentang apa yang kita dapatkan, apa yang bisa kita peroleh, namun apa yang bisa kita berikan. Saat seluruh raga kita set untuk peka terhadap kesusahan yang lain, lalu berbuat. Saat kita menanggalkan baju keegoan, keuntungan, keserakahan, lalu menggantinya dengan jubah ketulusan. Maka bersiaplah merasakan sensasinya, kebahagiaan yang menjalar keseluruh sendi. Melihat video ini saja, membuat saya dan mungkin kita semua tersenyum-senyum lalu terharu, menghadirkan lonjatan rasa damai yang meluap. Lantas, bagaimana bila kita pelakunya? Berapa kali lipat rasa ini memenuhi hati kita?
Dan ajaib sekali, seperti video di atas dan pada kehidupan nyatanya, kebaikan, ketulusan adalah sesuatu yang sifatnya menular.
Mungkin inilah yang dinamakan keterkaitan hati, sesuatu yang jatuh dari hati ke hati. Lalu terpancarkan lewat tindak tanduk.

Detik-detik paling mengharukan dari video ini mungkin memang adalah detik dimana pada akhirnya terjawab sudah pertanyaan diawal cuplikan
"Apa yang ia peroleh dengan melakukan ini setiap hari?"
"Yang dia terima adalah emosi. Dia menjadi saksi kebahagiaan. Mencapai pemahaman yang lebih dalam. Merasakan cinta. Menerima apa yang tak dapat dibeli oleh uang. Dunia menjadi lebih indah."

Mungkin, kini saatnya untuk kita berbuat serupa, sekarang, ya sekarang. Meski siapa bilang ini mudah? Move on memang perlu tekad yang kuat. Belum lagi di tengah jalan akan banyak godaannya, untuk istiqomah itu bukan gampang. Tapi, memulai sesuatu yang baik, lantas menjadi kebiasaan baik adalah keharusan, bukan pilihan, karena hanya orang-orang baiklah yang akan beruntung, menjadi pemenang dalam kontes kehidupan berhadiah keindahan akhirat. Kecuali...kita hanya ingin jadi pemain ekstra yang hidup dan mati tiada pengaruhnya.

Tanyakan si hati, "Dan dalam hidupmu, apa yang paling kau inginkan?"
Posted by Unknown On 20.26 1 comment READ FULL POST

Jumat, 22 Agustus 2014

Layanan Google Street View sudah memiliki rekaman foto-foto untuk sejumlah area di empat kota di Indonesia mulai hari ini, Kamis (21/8/2014).

Sejumlah jalanan di Jabodetabek, Surabaya, Bogor, dan Bali kini bisa dijelajahi secara virtual melalui layanan pemetaan Google ini.

Untuk mengakses fitur Street View dari PC desktop atau laptop, buka alamathttp://maps.google.com melalui Firefox, Chrome, atau browser lain. Ketik nama kota atau lokasi yang ingin dikunjungi.

Pada sudut kanan bawah terdapat pilihan menu "Street View" dengan simbol figur manusia berwarna kuning. "Drag" boneka kuning tersebut dan lepas ke area yang ingin Anda jelajahi.

Cara lain, klik jalan yang dimaksud dan nama jalan akan dimunculkan di pojok kiri atas halaman Google Maps beserta menu Street View di samping kanannya. Untuk melihat area di sekitar jalan tersebut, klik foto yang bertulis "Street View".

Google
Menu Google Street View di browser PC Desktop
Akses dari smartphone

Selain melalui browser di PC atau laptop, fitur Street View juga bisa diakses melalui perangkat mobile dengan sistem operasi Android atau iOS.

Untuk mengaksesnya, pengguna Android/iOS cukup membuka aplikasi Google Maps di perangkat Android, lalu memilih suatu jalan di peta tersebut.

Tekan dan tahan agak lama di area yang ingin dilihat hingga sebuah pin merah ikon Google Maps muncul (Dropped Pin).

Nama jalan yang dimaksud akan ditampilkan di bagian bawah layar. Klik nama jalan tersebut, bila areanya terekam Street View akan muncul foto dengan tulisan "Street View". Klik foto tersebut dan Anda bisa mulai menjelajah jalanan dan melihat-lihat area di sekitarnya.

Google
Layanan Google Street View sudah memiliki database jalanan di Ibu Kota Jakarta.

Sumber : tekno.kompas.com
Posted by Unknown On 05.56 No comments READ FULL POST
  • RSS
  • Delicious
  • Digg
  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin
  • Youtube