Tampilkan postingan dengan label Travelling. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Travelling. Tampilkan semua postingan

Selasa, 06 Januari 2015

Cerita lama tapi karena lagi kangen pengen naik gunung lagi, jadi pengen nulis pengalaman pas kesana. ^_^

21-22 Juni 2014 lalu beberapa anggota kita SSG 26 berangkat ke Papandayan-Garut dengan beberapa teman-teman dari SSG 27. SSG 26 yang ikutan mendaki ada Kg Ari alias ChieLunk sebagai Ketua Panitia, Kg Fudin, Miming, Teh Tri, Teh Miftha, Teh Farida, Teh Yuni, Teh Aul, Teh Lilis, Teh Drian dan Teh Debi.


Berhubung ini adalah pendakian pertama bagi saya, jadi benar-benar sangat berkesan. WONDERFULL DAY. Meskipun saya yakin, pendakian kedua ketiga dan seterusnyapun pastilah sebuah pendakian yang penuh kesan juga. Kenapa tidak, setelah lelah menyusuri jalur dengan beban di pundak kemudian kita disuguhi eloknya pemandangan alam dari ketinggian. Subhanallah

Berangkat ke Garut, nyarter angkot. Kita berangkat dari DT, ngumpul dari jam 6 akhirnya berangkat jam8 pagi. Desak-desakkan dengan ransel, hehe. Nice trip.

Yeyyy, beberapa jam perjalanan akhirnya sampai di pemberhentian pertama. Disini janjian ketemu Aulia, kemudian kami berganti angkutan khusus ke titik pendakian pertama Papandayan.


Setelah shalat, BERANGKAAAAAAT….


Ngomongin soal foto-foto perjalanan, emang yang sering kejepret hanyalah para bidadari ini, para bidadara yang Cuma 2 orang ibarat penunjuk jalan dan pengawal perjalanan. Hehe Yang satu jalan di paling depan yang satu paling belakang. Dan berhubung mereka udah pernah ke Papandayan sebelumnya jadi gak senarsis akhwat-akhwat ini. Mereka rela jadi fotografer dari awal sampai akhir. Kang Fudin nyusul kita besoknya ke lokasi kemping, jadi ikhwan yang dari awal ikut perjalanan bareng adalah Kg Ari dan Kg Ibut (SSG 27).

Seperti yang dilihat, trek ke Papandayan sangat cocok buat pemula. Jarak tidak terlalu jauh, bisa ditempuh dengan 3 jam perjalanan cukup santai dan tidak terlalu nanjak juga jalannya. Nice lah, bolehlaaah. Masa gak bisa, wong anak SD aja banyak yang mendaki Papandayan bareng keluarganya.



Foto di bawah ini, masih separoh perjalanan nih Ssahabat, tapi alam sudah memanjakan mata dengan pemandangannya…


Menjelang Maghrib, akhirnya sampai juga di Pondok Selada tempat tenda bakal digelar. Dan, Subhanallah yang lagi mendaki ternyata ratusan hampir seribuan malah kata Mang-Mang yang jaga di bawah.
Mulailah “merakit” tenda…



Malam itu berlalu dengan guyuran hujan lebat…

22 Juni 2014
Keesokan harinya…
Kami melanjutkan pendakian ke atas, mau liat Edelweis ceritanya… Perjalanannya melewati hutan mati. Check it out!


Sibuk deh foto-foto sama matahari terbit di lokasi Hutan Mati.



Kelamaan nih di Hutan Matinya, gara-gara FOTO-FOTO


Okeh kita lanjut lagi perjalanan menuju Edelweisnya…



Dan akhirnya sampai juga…


Edelweisnya belum mekar, tapi sudah mulai berbunga…


Setelah puas, kita turun lagi dan masak buat makan siang lalu bersiap turun lagi ke bawah. Bandung we are Coming.


Ngomong-ngomong, di lokasi kemping ini ada yang jualan cilok loh. Hehe. Baso, tahu sumedang. Ah, melihat sendiri perjuangan bapak-bapak dan aa-aa nya ngebawa tandu jualan ke atas itu Subhanallah banget.


Pulaaaaaaang …


Oleh : Miming Murti Karlina
Posted by Unknown On 03.28 No comments READ FULL POST

Senin, 23 Juni 2014

Bismillah...
Assalamu'alaikum wr. wb.
Ijinkan saya untuk menceritakan sedikit cerita tentang pengalaman dan hikmah bersama SSG Advanture 26. SSG go to Gunung Papandayan 21 sd 22 juni 2014.
Selamat membaca para pembaca yg dirahmati Allah.

Sebenernya ini cerita saya, karena saya "nyusul" berangkat sendiri, da yg lain udah duluan berangkat pagi-pagi.

Didasari Niat yg kuat ingin Naik Gunung, meskipun tergolong pendaki pemula, yang hanya berbekal pengalaman jalan ke Hutan ciJungle waktu pelantikan SSG dulu, membuat saya tetap semangat untuk menyusul sahabat-sahabat yang sudah lebih dulu stay di Gunung Papandayan-Garut. Berangkat pukul 15.00 hari Sabtu 21.06.2014. Cerita ini dimulai...

Perjalanan dari Bandung menuju gerbang pendakian saya tempuh kira-kira dengan waktu 3 jam menggunakan motor matic. Dipertengahan jalan, semangat naik Gunung sempet anjlok karena akses jalan dari alun-alun Cisurupan ke Pos 1 terbilang WOW! "Ini jalan apa sungai? Aspal ama lubang masih banyakan lubang...Mana gede'-gede' lagi lubangnya" dalam hati. Hihihi

Namun, keinginan mendapatkan pengalaman, cerita, hikmah, dan pelajaran membuat saya lanjut terus. Maka jawaban dari tanya saya tadi hanya HHN "Hadapi Hayati Nikmati". Meskipun keu'eung (takut) karena Gelap + jalan yang seakan tak bershabat. Motto PANTANG PULANG TANPA PENGALAMAN terus terngiang.

30 menit melewati jalan berlubang, akhirnya saya menemukan POS Registrasi. Di sana saya mengisi data diri. Sempat petugas tidak mengizinkan saya naik, alasannya karena saya pendaki pemula dan hari sudah malam. Tapi saya tetap ingin sekali naik Gunung dan yakin kalau Allah pasti bantu. So, saya memutuskan naik malam itu juga.

Memang pertolongan Allah itu TIDAK ADA YG KEBETULAN, melainkan semua sudah tertuliskan ketika kita dalam kandungan, saat kandungan berusia 4 bulan. Yang HEBATnya, saat itu seakan Allah langsung ngasih petunjuk, melalui seorang pendaki yang Allah kehendaki menjadi jalan untuk saya mendaki gunung Papandayan. Orang itu lewat depan saya, tanpa berfikir panjang saya ikuti. Saya yakin orang ini mau Kemping juga, da kalo mau futsal mah g mungkin lewat gunung maleum-maleum gini. Hehehe. *Dalam hati mengucap Syukur.. Karena Allah menundukan Gunung yg besarnya 1.000.000.000.000 : 1 itu untuk bisa saya lalui tanpa tersesat. Padahal sangat amat mudah bagi Allah untuk membuat diri yg hina ini tersasar di daleum Gunung di tengah malam. Jika bukan karena Do'a kedua OrangTua, istri dan Sahabat semua, mungkin saya tidak bisa menulis cerita penuh hikmah ini skarang. :')


Perjalanan dari gerbang pendakian sampai Pondok Saladah (tempat orang-orang mendirikan tenda), kurang lebih 2 jam. Saat tiba, seakan lagi-lagi Allah memberikan pelajaran bahwa "Jika Allah belum menghendaki sesuatu, maka tidak akan terjadi." Di Pondok saladah ada kurang lebih 100 tenda berdiri, dan ada ratusan atau bahkan ribuan pecinta alam. Kurang lebih 30 menit saya muteur nyari tenda SSG, g ketemu. Sempet putus asa dan punya pikiran, "Curiga tidur beratapkan bintang" alias g ditenda, hihihi.

Dan ketika Allah sudah mengizinkan untuk bertemu yang saya cari, cara Allah lagi-lagi LUARBIASA.. Allah Azza Wa Jalla menggerakan 2 orang Akhwat yg berseragam SSG jalan di depan saya. Dan Allah juga yang menggerakan mata ini untuk melihat baju itu.

Pendek cerita, saya sapa 2 Akhwat itu.
Fudin : "Assalamu'alaikum teh..."
2 akhwat : *lempeung ajah g jawab
Dikiranya teh ikhwan genit mereun yah, makanya jawabnya dalam hati.

Ya udah, disapa lagi dengan kata yg lebih spesifik.
Fudin : "Teteh SSG yah???"
Akhirnya 2 akhwat itu membalikan wajahnya pelan-pelan lalu berkata..
Teteh M : "Eh Kang Fudin akhirnya sampe juga."

Dan akhirnyaaa....saya nyampe ke tenda SSG, disambut Hangat oleh para Sahabat yg lain.

Nb: teteh M adalah teh Miftah dan yang satu lagi g tau siapa da gelap udah maleum...

#itulah sedikit hikmah yang saya dapat share, semoga bisa bermanfaat.

Satu Pesan "TIDAK ADA YG KEBETULAN di kehidupan ini, MELAINKAN SUDAH ALLAH TULISKAN jalannya untuk kita. Semoga setiap kejadian bisa membuat kita semakin yakin dan semakin cinta kepada Allah."

#55626
#SSG26

#SSGDT

Oleh SAEFUDIN
Posted by Unknown On 18.50 10 comments READ FULL POST

Selasa, 17 Juni 2014

Daann..takdir inilah yang mempertemukan kita menjadi satu keluarga. Sesuatu yang tak terbayang, atau sekedar lewat terbesit di benak. Siapa kita? Tak saling kenal. Kita hanya berjalan mengikuti cerita hidup ini yang akhirnya membawa pada satu kebersamaan. Mungkin inilah yang namanya JODOH...Sahabat.

Kejadian silih berganti yang tak terduga mengisi hidup ini. Ada yang datang. Ada yang pergi. Akan begitu terus hingga waktu yang telah ditetapkanNya. Tutup buku.

Ahad, 15 Juni 2014
Kami (SSG26) memutuskan untuk mengadakan rihlah ke Taman Hutan Raya (Tahura) Ir. H. Djuanda, ke Dago Pakar menjejaki Gua Jepang dan Gua Belanda lalu ke Curug Omas (Maribaya).Tujuannya untuk mengeratkan lagi tali silaturahim dan tentu refreshing dari segala rutinitas harian yang panjang tanpa jeda, yang mungkin menguras hati dan pikiran.

Judulnya jalan-jalan dan benar-benar jadi jalan-jalan...pake kaki. Kalau diklat dulu disebut long march.
Uuuuhhh...tiiiiiiiiiiittttttttt... *ngeluhnya disensor :P
Sudah lumayan lama, semenjak saat terakhir kali tak penah mendaki bertubi-tubi seperti itu. Keringat bercucuran tak henti. Saat ingin menyerah! Kami hanya harus “menampar” diri. “Hai, itu bukan kita!” Setidaknya itu yang diajarkan saat diklat dulu.

Sepanjang jalan kenangan..kita selalu bergandeng tangaaaaannn... *eh jadi nyanyi. Sesekali berhenti mengatur nafas yang memburu.

Jujur, ini melelahkan. Tapi, tak semua kelelahan itu menjengkelkan, menyedihkan, dan rasa-rasa tak enak lainnya, bukan? Ini kelelahan yang membahagiakan, apalagi saat melihat tawa saudara, meski ekspresi saat nanjakmu, aku, dan yang lainnya, pasti sungguh miris.

Kembali menguatkan satu sama lain. Membuat cuplikan-cuplikan memori diklat SSG bermunculan satu-satu di benak.

Saat masuk, orang-orang seakan melirik aneh dengan ritual kita, baris-berbaris dengan umur seperti ini, sedang kita bukan tentara. Haha..Lucu memang. Tapi, dengan begini, kita dapat lebih teratur. Fokus. Kemudian tahu akan kemana dan seperti apa.

Lalu kami mulai menyusuri tempat itu. Trash bag, kembali menjadi barang paling berguna, “Mari kita berkhidimaaaattt!!”. 
Tempat umum seperti dago pakar ini tak bisa dipungkiri menjadi lahan empuk ulah tidak bertanggung jawabnya tangan manusia. Set..set... Habis manis sepah dibuang! Itulah nasib berbagai kemasan makanan, minuman, rokok, dan lain-lain yang nampaklah berceceran dimana-mana. Maka mengherankan manusia yang berkoar-koar geram dengan banjir yang terjadi. Karena sebenarnya kemarahan yang seringkali dilontarkan, tertuju pada diri sendiri. Solusinya sudah jelas kita tahu bersama, malah sering ditulis di mana-mana “Jagalah kebersihan!”, “Dilarang membuang sampah sembarangan!”. Hmm...hanya mungkin tak pernah benar-benar kita terapkan.

Untungnya, taman ini masih saja enak dipandang mata karena suasananya yang masih benar-benar alami. Pohon-pohon besar mengihiasi, beraneka tanaman memperidah. Hijau dimana-mana.

Selanjutnya, kami menyusuri Gua Jepang dan Gua Belanda...merenungi kisah orang-orang dulu yang harus berjalan di tempat gelap seperti ini, dan mungkin juga pengap, tidak seperti sekarang, demi untuk menyelamatkan hidup, mempertahankan nyawa dan bangsa.

Long march menjadi pilihan yang super sekali untuk mencapai curug “Omas”, air terjun yang ada di area Maribaya. Mengapa namanya Omas? Entahlah, seorang bapak yang tengah duduk di balai hanya berkata, “ Iya, Omas neng, soalnya g jauh dari situ ada si Mandra..” Lalu ditutupnya dengan tawa. Membuat kami pun tertawa.

Hawa berubah menjadi sejuk saat mendekati area ini. Samar-samar tedengar deru air yang jatuh tertumbuk satu sama lain. Lama-kelamaan nampaklah curug itu, dengan jembatan kayu yang menyatukan dua sisinya. Tapi....ya, itu tadi, mungkin karena ulah tangan manusia, air curug ini tampak keruh dan sampah-sampah bergentayangan di beberapa sisi. Miris sekali.

Yang menariknya, di tempat ini ada gerombolan monyet yang lincah. Seperti sudah terbiasa dengan keberadaan orang banyak, mereka terlihat santai saja, tidak peduli orang-orang tengah lalu lalang, yang sesekali malah menggoda. Cukup menjadi tontonan alam yang menghibur.

Hujan tiba-tiba mengguyur lumayan deras. Alhamdulillah, saat bersamaan kami telah sampai di tempat peristirahatan. Kami duduk kelelahan di bawah atap, di atas sebuah karpet yang di tawari seorang ibu yang sebelumnya mengadakan persaingan berebut pelanggan dengan pemberi jasa serupa. Membuat tersadar, hidup itu begitu kawan, yang tidak sigap akan tereliminasi. Hee...

Next, shalat di mushallah yang lumayan kecil dengan fasilitas mukena yang tidak kalah mengenaskan (kotor dan bau) dengan tempat-tempat umum lainnya. Benar-benar perlu diperhatikan dan dibenahi.

Selanjutnya, makan merupakan salah satu moment paling ditunggu. Pasalnya, keroncongan melanda, tenaga perlu dicas. Maka dengan lahapnya semua bekal yang dibawa terbabat sudah. Senyuman terbit lebih lebar. Alhamdulillah..."Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?"

Nah, acara yang paling ditunggu-tunggu setelah itu, adalah tukeran kado. Kami mengambil nomor yang sudah diacak sebelumnya. Dan tedeeengggg!!! Sekali lagi takdir Allah yang berlaku, akan berjodoh dengan kado seperti apa kita ini, barang seperti apa. Dan nampaklah satu-satu berbagai ekspresi saat kado dibuka. Mulai syal, mug, bantal, buku-buku, hingga pengharum ruangan dan alat penggaruk badan pun ada. Alhamdulillah...semoga semua kado bermanfaat. Allah Maha Tahu yang kita butuhkan. ^_^

Untuk selanjutnya, rapat pun digelar, menentukan acara apalagi yang akan diadakan keluarga ini. Dengan harapan lebih baik, lebih seru dan lebih bermanfaat.

Sebelum pulang, sesi foto-foto dulu kiteeeeeee...

Puas, lalu lanjut long march, mendaki gunung lewati lembah, saingan sama ninja Hatori. Keringat lagi-lagi menganak sungai. Di tengah perjalanan yang meletihkan, akhirnya kami memutuskan naik angkot (akhwat) dan naik mobil bak terbuka (ikhwan), berhubung waktu sudah semakin sore.

Diperjalanan berbagai cerita kembali mengihiasi, membuat cipratan-cipratan senyum dan tawa menular dari satu ke yang lain. Hingga kami tertidur dengan lelap sampai angkotnya tiba kembali ke rumah kita. DAARUT TAUHIID.

Terima kasih atas persaudaraan ini Ya Rabb...kami pulang dengan sekarung syukur dan kebahagiaan.

Finally, salah satu pelajaran, renungan, dan hikmah yang terbesar adalah adalaaahhh...selama kita bersama, kita akan selalu punya berjuta alasan untuk tetap bahagia. Mari terus bersama! Mari terus berbahagia! ^_^

Next trip...Let’s gooooo...!!! ^_^






Oleh Rifa'atul Mahmudah






Posted by Unknown On 18.23 No comments READ FULL POST

Minggu, 08 Juni 2014

Selamat Pagi!!! ^_^
Beberapa waktu yang lalu Uni ngewawancara beberapa temen-temen 26 untuk bahan tulisan dengan tema TIPS PELANTIKAN atau PERJALANAN KE HUTAN/GUNUNG. Rencananya mau di posting sebelum SSG 27 dilantik, tapi baru sekarang nih bisa di share…
Cekidot
à

Kg Epul : Yg pasti harus jaga kesehatan sebelum pelantikan...supaya tidak terjadi hal yg sama kayak saya..hehe”
“Mungkin saya juga sama kayak temen-temen lain kalau persiapan mau ke gunung seperti apa.. Kalau dari saya mah..kalau pelantikan kayak gini jangan terlalu banyak bawa baju ganti soalnya pengalaman pribadi juga ga ke pake.., untuk alat shalat juga buat ikhwan bawa sarung aja, untuk makanan juga harus bawa lebih banyak dari yang disuruh dibawa karena waktu bipak pergrup makanan untuk malem-malem itu perlu banget. Berikutnya untuk obat-obatan yang terpenting adalah obat masuk angin..dan yg terakhir bawa ponco jangan yang sobek dan bawa juga trashbag yang banyak soalnya pengalaman pribadi kalau bipak sendiri tetep keujanan dan basah...
Cukup sekian smoga bermanfaat..”
“Trashbagnya habis waktu bipak grup..”

Teh IDun : “Pastikan perlengkapan ke gunung sudah sesuai dan lengkap, cek ulang jika perlu (jangan sampai ada yang bawa guling, kasur, teflon, bed cover) hehe *pengalaman orang lain. Bawa perlengkapan makanan yang cukup, bayangkan hal terburuk disana”

Teh Tri : “Biasanya mau ke gunung itu suka ada perasaan gimana kalau nanti gini, gimana kalau nanti gitu, dan berbagai jenis prasangka yang lain, jadinya pas dimasuk-masukin tas penuh, apalagi baju-baju, nambah berat semua menuhin ruang, kalau Tri biasanya kalau perjalanan kemping-nya cuma sehari semalem, bawa baju ganti 1 aja cukup. Kadang 1 juga ga dipake, tapi balik lagi tergantung masing-masing orang. Mending tasnya penuhin sama bahan makanan. Yang paling efisien dan ga menuhin tas semua ga bikin berat mah bawa roti aja. Nah, barang-barang yang sekiranya akan digunakan kelompok, disebar aja, jadi ga berat, semua mubadzir juga kalau kita udah berat-berat bawa tapi ga dipake.”
*****

Oleh Miming MK


Posted by Unknown On 00.46 No comments READ FULL POST

Minggu, 11 Mei 2014

Sobat travelicious beberapa minggu kemarin saya diizinkan Allah untuk menengok salah satu kebesaran Allah yaitu gunung Papandayan, gunung yang terletak di kabupaten Garut, Jawa Barat tepatnya dikecamatan Cisurupan dengan ketinggian 2665 mdpl. Menurut klasifikasi Schmidt dan Ferguson termasuk type iklim B, dengan curah hujan rata-rata 3.00 mm/thn, kelembaban udara 70-80 % dan temperatur 10 derajat C.

Setiap gunung tentu memiliki keindahannya masing-masing tak terkecuali gunung Papandayan ini. Yuk kita sedikit bercerita tentang keindahan ke-Maha Kuasaan Allah lewat foto-foto yang sempat saya abadikan!


Sobat travelicious, tempat ini namanya mesjid Cisurupan, di sebut juga alun-alun Cisurupan. Biasanya dijadikan tempat meet point para pendaki dari berbagai daerah. Tak jarang pula dijadikan tempat tidur atau istirahat, baik sebelum berangkat ataupun selesai pendakian. Hmmm, mau nyoba i’tikaf disini?? Siap-siap dengan udaranya dinginnya yaa sobat...


Nah sobat, foto ini adalah foto yang nunjukkin titik nol pendakian akan dimulai. Sebelumnya, setiap rombongan yang akan mendaki diantar menggunakan angkutan sejenis mobil bak terbuka dari mesjid Cisurupan tadi, namun ada juga beberapa pendaki yang memilih untuk berjalan kaki. Rute pendakian Papandayan itu kaya gini nih sobat-sobat travelicious:

Misalkan sobat-sobat pergi dari Bandung (karena kebanyakan sobat-sobat travelicious SSG-26 yang pusatnya di Bandung, hehe) maka jalurnya akan seperti ini: terminal Ci Caheum - Terminal Garut - Mesjid Agung Cisurupan - Titik awal pendakian (relatif) - pondok Saladah (tempat camp) – Tegal Alun – Puncak. Yah kurang lebih seperti itulah alur perjalanannya (salah-salah dikit atau kurang tepat mohon maaf yee sobat-sobat).





Selama perjalanan menuju tempat camp, sobat travelicious bakalan disuguhin sama keindahan-keindahan gunung Papandayan ini, sampai-sampai temen saya bilang, “Ya ampun tri, lidah saya ga berhenti bilang Subhanallah, Subhanallah..”, oh Allah dibandingkan dengan apa yang Engkau ciptakan, saya benar-benar gaaaa ada seujung kuku-seujung kukunya sama sekali, sama sekali nol, ga ada apa-apanya. Lalu apa yang harus saya sombongkan???” Benar-benar jadi ajang evaluasi diri nih sobat-sobat, cobain deh!

Foto yang sebelah kanan itu, foto pemandangan Pondok Salada dari titik yang lebih tinggi, keliatan kan hamparan tenda-tenda berjejer dekat satu sama lain semakin membuat kita lebih menyatu dan lebih akrab dengan orang-orang yang baru kita kenal, menambah persaudaraan, menjaga ukhuwah. Nah, foto yang yang satunya lagi foto tenda yang tim saya dirikan, yah kurang lebih seperti inilah gambaran deretan tenda-tenda dilihat dari jarak dekat, walaupun sebetulnya tenda kami sedikit menjauh dan mencari tempat yang lebih sepi sehingga tidak melupakan niat awal mendekatkan diri pada Allah.


Jreng..jreng..jreng..ini dia spot yang dicari para pendaki, taman Edelweis (Anaphalis javanica)....yes, of course. Hamparan taman Edelweis ini menambah keindahan gunung Papandayan. Yuk sobat sebelum kita mellihat keindahan hamparan taman Edelweis kita coba ulas sekilas pertumbuhan bunga abadi ini.

Bunga Edelweis merupakan spesies tanaman berbungan endemik yang banyak ditemukan didaerah pegunungan di Jawa, Sumatera Selatan, Sulawesi Selatan dan Lombok. Bunga penyuka sinar matahari ini penuh ini  dalam ukuran dewasa dapat mencapai tinggi 8 meter. Bunga ini umumnya terlihat antara bulan April-Agustus.

Satu lagi nih sobat, spot yang dicari-cari para pendaki yaitu hutan mati, hutan mati ini terbentuk akibat erupsi Papandayan beberapa tahun lalu (sekitar tahun 2002), akibat aktivitas vulkanik ini menghanguskan semua vegetasi alam yang ada.




Nah sobat-sobat gimana udah puas liat foto-fotonya, atau masih kurang?? Hmm..cobain deh sobat-sobat dateng sendiri, rasakan sendiri kedekatan dengan Sang Maha Pencipta dari atas gunung, mensyukuri kaki yang masih bisa digunakan untuk berjalan meski setapak demi setapak, merasakan bagaimana rasanya berlelah-lelah menjalani hidup, merasakan bagaimana orang-orang tidur dipinggir jalan, di kolong jembatan, tanpa alas,  kurang nyaman, kedinginan, banyak nyamuk. Baiklah,  Semoga kita tidak terlena dengan kehidupan dunia, semoga kita digolongkan menjadi hamba-hamba penuh syukur, pandai menggali hikmah dari setiap keadaan. Semoga suatu saat Allah mengizinkan kita menginjakkan kaki di gunung-gunung, pantai-pantai ataupun kekuasaan-kekuasaan Allah lainnya. Allahu Akbar...!

Saya akan menutupnya dengan sebuah petuah (anonim):
“Kita tidak pernah melihat bintang-bintang bergerak, walaupun mereka bergerak dengan kecepatan lebih dari sejuta kilometer per hari. Kita tidak pernah melihat pohon tumbuh, atau memperhatikan diri kita yang semakin tua setiap harinya. Kita bahkan tidak melihat jarum jam bergerak. Kita cenderung berpikir secara statis lalu terkejut oleh perubahan yang senantiasa terjadi dialam dunia, dan seringnya kejutan itu tidak mengenakan kita bahkan mematikan. Coba kita sisihkan waktu sejenak untuk bersyukur atas hal-hal baik dalam hidup kita, renungkan tentang apa yang telah kita capai, orang-orang yang memperhatikan kita, pengalaman yang telah kita dapatkan, keahlian dan minat yang telah dimiliki,apa yang kita percayai, dan hal-hal terindah dalam hidup kita. Karena hidup dan kesempatan ini hanya datang sekali”.

Oleh : Tri Methaa Meitania
Posted by Unknown On 01.38 3 comments READ FULL POST
  • RSS
  • Delicious
  • Digg
  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin
  • Youtube