Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 07 April 2015


Mari sejenak kita temui seorang lelaki yang menua dalam darmanya sebagai rasul. Sepanjang ruahan bakti pada Ilahi itu, terselip satu penantian. Tak juga hadir sesosok kecil yang akan memanggil, “Ayah!” Tak juga wujud si mungil yang akan naik ke punggung dan menjadikannya tunggangan keliling ruang. Harapannya untuk memiliki pelanjut agama Allah yang lurus dari sulbinya telah lama digayutkan di langit dengan temali do’a. Harapan itu tak pernah hilang. Hingga ketika rambutnya memutih, Ibrahim pun menuai buah kesabaran dan baik sangkanya pada Sang Pencipta. Lahirlah Isma’il, seorang putra yang santun, amat sabar, dan bijaksana.

Lalu bayangkanlah ketika sang ayah, yang menyayangi putranya bagai kakek menggayun cucu itu diperintahkan meninggalkan si bayi merah dan ibunya di padang gersang tak bertanaman. Allah yang memberinya kesabaran menanti. Allah yang beberapa cecah di depan mengaruniakan sang buah hati. Allah yang memerintahkan agar mereka berpisah kini. Berpisah tanpa janji untuk berjumpa lagi. Ringankah itu bagi Ibrahim?

Jawaban sejatinya adalah, “Tidak”.

Dan bayangkan, seorang ayah yang tak menyaksikan bagaimana tumbuh kembang putranya, lalu ketika anak itu sampai pada umur sanggup membantu kerja-kerjanya, ia didatangi mimpi sejati tiga malam berulang turut. Sebuah gambar yang jelas, sebuah tayangan yang tak bisa di lain tafsir. Ia menyembelih Isma’il. Dan itu perintah. Sesudah penantian, ada kelahiran sekaligus perpisahan. Sesudah perpisahan ada pertemuan, lalu perintah membunuh sang pengobat rindu. Dengan tangannya sendiri. Ringankah itu bagi Ibrahim?

Jawaban sejatinya adalah, “Tidak”.

Banyak orang beranggapan bahwa ikhlas itu harus ditandai rasa ringan dalam mengerjakannya. Jika terasa menyesak dalam dada dan terbeban dalam jiwa, demikian pendapat mereka, maka belumlah ikhlas namanya. Pada keadaan tertentu, dan ini tidak banyak, mungkin dianggap benar. Namun, dalam banyak hal ia tidak tepat. Bahkan fahaman ini bermasalah ketika membuat kita tak jadi beramal karena khawatir tidak ikhlas ketika telah terasa bahwa amal yang dititahkan memang berat adanya.

Mari saksikan Ibrahim yang merasa berat dalam banyak titik ujian penting di hidupnya. Tapi terasa berat itu ternyata tak menjadi ukuran bagi keikhlasannya. Ibrahim tentu saja ikhlas. Bahkan sangat ikhlas. Dan dialah salah satu makhluq terikhlas yang pernah tampil di pentas bumi. Keikhlasan memang tak selalu tumbuh dari rasa ringan dalam melaksanakan perintah. Ikhlas bisa saja tumbuh dari kerja-kerja berat mengalahkan nafsu diri. Pengorbanan. Begitu kita menyebutnya.

“Berangkatlah baik dalam keadaan merasa ringan ataupun merasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (Q.s. At-Taubah: 41)

Tak pantas kita menghakimi orang-orang yang menampakkan rasa berat di dalam perjuangan. Justru bisa jadi pahala yang mereka terima jauh lebih besar daripada yang merasa beramalnya ringan-ringan saja. “Ajruki ‘alaa wadri nashaabik,” kata Sang Nabi pada ‘Aisyah. “Pahalamu senilai dengan kadar kepayahanmu.” Dan sejarah tak pernah menafikan bahwa ada orang-orang yang berangkat berjihad dengan ringan karena merasa justru lepas dari beban-beban keluarga; istri yang baginya cerewet, anak-anak yang rewel, atau nafkah yang sulit ditata. Begitu pula, ada yang merasa berat berangkat karena istri yang shalihah, anak-anak yang qu’rata a’yun, dan rumah sakinah penuh cinta.

sumber gambar: www.flickr.com
Maka, alangkah berharga jika ikhlas tidak dibatasi oleh kesan perasaan sesaat. Ringan atau berat. Biarkanlah jikapun amalan kita terasa ringan, hingga kita menikmatinya. Lalu melupakannya agar pahala yang ditetapkan tak terusik lagi. Dan biarkanlah pula jikapun amalan kita terasa berat. Agar kita menghayatinya, sembari berharap pahala agung dari sisi-Nya.

 
Sumber:
“Lapis-Lapis Keberkahan” oleh Ust. Salim A. Fillah
Posted by Unknown On 06.14 No comments READ FULL POST

Senin, 06 April 2015


“Sesungguhnya manusia pertama yang akan diadili pada Hari Kiamat,” demikian Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda dalam hadits riwayat Imam Muslim, Ahmad, dan An-Nasa’i, “adalah orang yang mati syahid di jalan Allah.”

“Dia akan didatangkan, dihadapkan, dan diperlihatkan kepadanya nikmat-nikmat Allah yang di anugerahkan padanya di dunia,” lanjut beliau, “Lalu dia pun mengenali dan mengakuinya. Bertanyalah Rabb kita ‘Azza wa Jalla kepadanya, ‘Amal apakah yang kau kerjakan dengan nikmat-nikmat-Ku itu, wahai hamba-Ku?’ Dia menjawab, ‘Aku berperang semata-mata karena Engkau sehingga aku mati syahid di jalan-Mu, Ya Rabbi,’ Allah berfirman, ‘Dusta! Kamu berperang dengan niat agar dikatakan sebagai seorang gagah berani. Kau telah mendapatkannya, memang demikianlah yang dikatakan manusia tentang dirimu.’ Kemudian diperintahkan agar dia diseret pada mukanya. Lalu dia dilemparkan ke dalam neraka.”

“Manusia berikutnya yang akan dihakimi,” sambung beliau Sang Nabi, “adalah seorang yang membaca Al-Qur’an, mempelajari ilmu, serta mengajarkannya. Dia akan didatangkan, dihadapkan, dan diperlihatkan kepadanya nikmat-nikmat yang telah Allah anugerahkan kepadanya. Maka dia pun mengenali dan mengakuinya. Bertanyalah Rabb kita ‘Azza wa Jalla kepadanya, ‘Amal apakah yang kau kerjakan dengan nikmat-nikmat-Ku itu, wahai hamba-Ku?’ Dia menjawab, ‘Aku membaca Al-Qur’an, mempelajari ilmu, serta mengajarkannya semata-mata karena Engkau, Ya Rabbi.’ Allah berfirman, ‘Dusta! Kamu menuntut ilmu agar dikatakan sebagai seorang qari’. Kau telah mendapatkannya, memang begitulah yang dikatakan manusia tentang dirimu.’ Kemudian diperintahkan agar dia diseret pada mukanya. Lalu dia dilemparkan ke dalam neraka.”

“Manusia terkemudian yang akan dimahkamahkan,” pungkas Al-Habib Shallallahu ‘Alaihi wa Salla, “adalah seorang yang dilimpahi rizqi dan berbagai macam harta benda. Dia akan didatangkan, dihadapkan, dan diperlihatkan kepadanya nikmat-nikmat yang telah Allah anugerahkan kepadanya. Maka dia pun mengenali dan mengakuinya. Bertanyalah Rabb kita ‘Azza wa Jalla kepadanya, ‘Amal apakah yang kau kerjakan dengan nikmat-nikmat-Ku itu, wahai hamba-Ku?’ Dia menjawab, ‘Aku tidak pernah meninggalkan shadaqah dan infak pada jalan yang Engkau cintai, melainkan pasti aku melakukannya semata-mata karena-Mu.” Allah berfirman, ‘Dusta! Kamu berbuat demikian supaya dikatakan sebagai seorang dermawan mulia. Kau telah mendapatkannya, memang begitulah yang dikatakan manusia tentang dirimu.’ Kemudian diperintahkan agar dia diseret pada mukanya. Lalu dia dilemparkan ke dalam neraka.”


Sebab hidup ini adalah ibadah kepada Allah, maka tugas kehambaan kita adalah mengemudi hati menujuNya. Di dalam hati itu, jaminan keselamatan dunia dan akhirat kita bernama keikhlasan. Dan betapa beratnya mengendalikan hati agar ia ikhlas kepada Allah.

Goda-goda untuk memuliakan diri di hadapan manusia dengan amal-amal kita, terus dihembuskan oleh hawa dan dinyalakan oleh syaitan. Amat besar gelora dalam dada agar amal dilihat, didengar,, dikisahkan, dipanggungkan, dan ditayangkan. Amat tinggi hasrat dalam hati agar diri ditakjubi, dipuji, dan dianggap tinggi.

Padahal para pendahulu kita yang shalih lebih memilih untuk menutup rapat-rapat keshalihannya dari indra manusia. Mereka tidak mengizinkan kemesraannya dengan Allah dilihat dan didengar serta ditakjubi dan dipuji oleh sesama. Mereka berjuang untuk merahasiakan amalnya, sekeras upaya mereka untuk beramal itu sendiri.

Demikianlah, “Tidak sempurna suatu amal baik kecuali dengan tiga perkara,” ujar Imam Ja’far Ash-Shadiq kepada Imam Sufyan Ats-Tsauri Rahimahumallah, “yaitu menyegerakannya, mengganggpanya kecil, dan merahasiakannya.”


Sumber :
“Lapis-Lapis Keberkahan” oleh Ust. Salim A. Fillah
Posted by Unknown On 17.12 No comments READ FULL POST

Minggu, 05 April 2015

Kalau engkau bimbang menghadapi orang-orang di sekitarmu yang sulit memahami jalan pikiranmu. Atau di saat kawan dan keluarga yang engkau kira akan menjadi pendukung setiamu, tetapi justru menjadi orang pertama yang tidak mempercayaimu dan satu per satu meninggalkanmu. Atau manakala keletihan menyergapmu dan semua apa yang engkau kerjakan dibalas dengan penghinaan dan caci maki belaka. Atau bahkan ketika engkau semata-mata berpijak pada kepentingan yang lebih luas dan bersedia meminggirkan ego dan minat pribadi, masih saja mereka mempertanyakan dan mempersoalkan apa yang tengah engkau kerjakan... Maka ketauhilah, pada saat itu engkau sebaiknya kembali membaca sejarah Nabi Muhammad saw.

Ada banyak titik sepertimu saat ini, saat Muhammad bisa mempertimbangkan untuk menghentikan ikhtiar
Mungkin saat dalam rukunya ia dijerat di bagian leher
Mungkin saat ia sujud lalu kepadanya disiram isi perut unta
Mungkin saat ia bangkit dari duduknya lalu dahinya disambar batu
Mungkin saat ia dikatai gila, penyair, dukun, dan tukang sihir
Mungkin saat ia dan keluarga diboikot total di syi’b Abi Thalib
Mungkin saat ia disaksikan sahabat-sahabatnya disiksa di depan mata
Atau saat paman terkasih dan istri tersayang berpulang
Atau justru saat dunia ditawarkan kepadanya; tahta, harta, wanita...

Engkau akan mulai mengerti dan mengenal lebih dekat lagi sosok manusia agung bernama Muhammad. Engkau akan sadar betapa sungguh susah menjadi seorang Muhammad. Kini, engkau akan tersadar betapa bukan hanya engkau yang mengalami semua cobaan itu. Engkau tidak sendirian dan tidak pernah sendirian. Shallu ‘ala an-nabiy. Mari bershalawat kepada Nabi!

Muhammad tahu, kawan
Ridha Allah tak terletak pada sulit atau mudahnya
Berat atau ringannya, bahagia atau deritanya
Senyum atau lukanya, tawa atau tangisnya

Ridha Allah terletak pada
Apakah kita menaatiNya
Dalam menghadapi semua itu
Apakah kita berjalan dengan menjaga perintah dan laranganNya
Dalam semua keadaan dan ikhtiar yang kita lakukan

Membaca ulang kisah hidupmu membawa kami kembali melintasi gurun kehidupan, bertahta kepada jejak pergulatan iman yang kau wariskan, bersenandung pada gerak awan yang menaugi setiap langkahmu dalam kasih sayang semesta, bercermin pada kisah kasihmu dengang ahlul baitmu yang suci, bergetaran saat terbayang betapa jatuh bangunnya dirimu menerima amanah Ilahi, dan berurai air mata menyimak hikmah ketika sisi manusiawimu bersentuhan dengan keaguangan Ilahi. Duhai manusia pilihan, tak ingin kami lepaskan energi kami dengan sia-sia setiap kusebut namamu, datanglah kembali, oh Muhammad... Ya Sayyidi... Ya Rasulallah...


Ashabul Kahfi Melek 3 Abad oleh Dr. Nadirsyah dan dr. Nurrussyariah.
Dalam Dekapan Ukhuwah oleh Ust. Salim A. Fillah.
Posted by Unknown On 18.37 No comments READ FULL POST

Sabtu, 04 April 2015

Seorang gembala suatu hari merauti kayu dengan pisaunya. Kemarin, tongkat yang biasa dipakainya untuk menghalau dan mengatur ternaknya patah. Kayu yang disisiki itu adalah bakal tongkat baru.

Di tengah keasyikannya mengukir hiasan pegangan di tongkat barunya, salah satu dombanya tiba-tiba memekik-mekik. Domba itu melompati kawanannya dan lengkingannya makin nyaring tiap kali dia menapakkan kakinya ke tanah. Kawanan domba itu kisruh kalang kabut, sementara si pembuat onar terus mengacau. Dalam keriuhan, larinya kian cepat. Akhirnya dia menghambur menubruk tuannya dengan jerit menyayat hati. Sang gembala terpelanting kaget. Pisau di tangannya terlempar dan seraut serat kayu menghujam menyusup ke dalam jari telunjuknya.

Sang domba terguling-guling, lalu bangkit. Lalu tenang. Dia mulai berjalan lagi, sedikit pincang, namun tak lagi kesetanan. Sang gembala marah dan menghalau dengan pukulan. Dia tak tahu penyebab kehebohan barusan. Dia tak sadar bahwa sebuah paku berkarat yang tadi menancap di kaki sang domba kini tergeletak di dekatnya.

Dan dia meraut lagi. Tak peduli pada telusuk kayu yang merasuki jarinya. Pasti sakit jika dicabut, pikirnya. Biarkan saja.

Hari berganti dan selusup itu mulai membuat jarinya bengkak, meradang, dan menggembung nyeri. Sakit sekali. Dia berteriak mengaduh tiap kali sesuatu menyentuhnya. Bahkan tiap kali berjabat tangan dengan rekan, dia meringis kesakitan, marah, dan menumpah serapahi mereka.

“Aw...sakit sekali!!” Jeritnya.


Orang terluka, seperti cerita tentang gembala ini, merasa sakit bukan karena apa yang sedang terjadi di luar memang menyakitkan. Dia merasakan sakit itu karena dia sedang terluka. Lalu mereka menanggapi di luar batas kewajaran, melebih-lebihkan, dan bertingkah dengan rasa terancam yang begitu tinggi.

“Kau tahu John, orang terluka melukai orang lain. Ketika seseorang mengatakan atau melakukan sesuatu yang menyakitkan, kau perlu memeriksanya lebih dalam. Kau perlu melihat hingga ke bawah permukaan.” Seorang kawan berujar kepada John C. Maxwell dalam Winning with People.

“Mereka menyangka tiap teriakan keras ditujukan pada mereka.” (Qs. Al-Munafiqun: 4)

Kesalahan terbesar dari orang-orang yang terluka adalah mereka tak segera menyembuhkan luka lamanya. Telusuk yang menganggu itu dibiarkan. Jadilah orang-orang yang terluka itu sebagai mereka yang enggan berubah. Dia memilih menikmati lukanya. Dia merawat baik-baik telusuk itu agar tetap berada di dalam kulitnya. Dia kian kemari menampilkan kesakitannya dengan segala cara.

“Orang yang terluka,” kata John C. Maxwell, “Juga sulit menerima kegagalan.” Semua ketidakberesan dalam hidup yang sebenarnya bersumber dari lukanya tak disikapi sebagai pelajaran berharga. Dia selalu menemukan orang, pihak, kelompok, benda atau apapun yang menurutnya telah menjadi sebab dari segala kepahitan. Telusuk itu masih ada di sana, mengeram dalam diam namun mendatangkan kuman-kuman. Tapi tiap orang yang menyalaminya dituduh sebagai sumber siksaan. “Kalian menyakitiku,” erangnya.

Orang terluka kurang suka membahas persoalan. Mereka tak tertarik untuk memperbincangkan akar masalah. Yang mereka tahu hanyalah bahwa mereka kesakitan. Rasa tersiksa itu disebabkan seseorang telah menyentuh luka mereka, entah dengan cara apa. Mereka selalu memandang dirinya sebagai korban. Rasanya pedih. Dan bagi mereka, orang-oranglah yang salah. Selesai.

Lebih lanjut, orang terluka tak terlalu suka belajar dari orang lain. Itu akibat dari menganggap bahwa orang lain bersalah dan menyakiti dirinya. Dia juga enggan bertindak. Dia tak bergairah melakukan sesuatu untuk menghadapi berbagai masalahnya dan memecahkannya. Ya, karena dia menganggap semua ini bukan salahnya. Seharusnya orang lain yang telah menyakitinya itu yang bertindak terlebih dahulu. Seharusnya mereka yang meminta maaf. Seharusnya mereka yang memberi hadiah. Seharusnya mereka yang mengerjakan tugas. Seharusnya mereka yang menanggung biaya. Seharusnya mereka.

Begitulah. Apakah kita termasuk orang-orang yang terluka?

Ustadz Salim A. Fillah

“Dalam Dekapan Ukhuwah”
Posted by Unknown On 19.03 No comments READ FULL POST

Kamis, 08 Januari 2015

Sempat kaget mendengar pernyataan ibu di depan saya. Katanya, kejadian ini memang sudah sering
terjadi di daerahnya, dan ini menjadi kebiasaan. Kata "kebiasaan" yang mungkin terucap sebagai
tanda pasrah sehingga baginya bukan menjadi hal yang patut diherankan lagi. Kata "kebiasaan" yang terdengar di telinga saya seperti kalimat, "Ya sudah, biarkan saja!" Saya salah mengira? Entahlah. Saya hanya bisa menatap beberapa meter tanda di tembok rumah yang kini mereka sebut "dapur umum".

"Yah...kalau mau dibilang musibah, ini memang musibah, tapi..." Volume suaranya mengecil, matanya melirik ke sekitar, seakan takut ketahuan.
"Ini memang karena ulah warganya sih, kebiasaan buang sampah sembarang! Apalagi itu tuh pokok. Iihh... Neng...!" Sambungnya bergidik sendiri.
"Em...memang tidak ada tempat pembuangan sampah umum, Bu?" Tanya saya heran.
"Nggak ada Neng. Yah, beberapa orang yang sadar memang punya inisiatif untuk ngurus sampahnya sendiri."
"Maksudnya Bu?"
"Iya, dibakar Neng"
"Oohh..."
"Tapi kebanyakan ya itu, buangnya sembarangan. Padahal kan ada beberapa sampah yang sulit hancur, kayak itu tuh popok. Iih..." Bergidik lagi.
"Udah pernah dibicarakan dengan Pak RT atau Pak RW nggak Bu?" Saya antusias.
Beliau hanya tersenyum, yang kali ini juga tidak saya mengerti maksudnya. Sudahlah! Saya putuskan untuk tidak lagi menduga.

Saya hanya terus berpikir, bagaimana bisa beberapa meter ini menjadi kebiasaan warga? Sungguh kebiasaan yang tidak biasa! Sesuatu yang harusnya dihindari malah dapat pemakluman.

"Adik-adik tahu tidak, kenapa bisa terjadi banjir?" Saya bertanya kepada sekumpulan anak di dalam mesjid.
"Karena buang sampah sembarangan!" Jawab mereka kompak.
"Terus, yang suka buang sampah siapa?"
Mereka saling menunjukan, "Ini teh! Ini teh!" Terlihat seorang anak yang sibuk memunguti remah-remah biskuit yang berhamburan di karpet.
"Nah, di mesjid mah nggak boleh buang sampah sembarangan! Di luar juga!" Saya tersenyum.
"Sampah apa yang suka ada kalau banjir?"
Beberapa anak antusias menjawab berbarengan, menyebutkan plastik, dan lain-lain.
"Anak-anak yang pintar, cuma mungkin mereka hanya perlu diarahkan." Saya dalam hati.

"Ah, mau pindah kemana juga Neng! Rumah ya di sini ini. Susah kalau mau pindah mah." Kata seorang ibu lain ketika teman saya bertanya, kenapa beliau masih bertahan di lingkungan ini.
"Iya, susah adaptasinya lagi yah Bu? Apalagi nyari tetangga yang pas." Sergah saya mengingat ibu-ibu di daerah ini memang terlihat ramah dan kompak.
"Iya Neng, itu apalagi, susah....!" Beliau tersenyum.

Lantas ketika akan pulang, ibu tersebut mengantar kami. Si Ibu bercerita bahwa dulu, tidak pernah ada banjir. Kawasan ini dulunya masih hijau, tidak seperti sekarang yang dikelilingi pabrik dan perumahan. Banjir memang seringkali bertandang di kawasan Kamasan Kec. Banjaran ini, sehingga satu-satunya cara untuk menyelamatkan diri adalah dengan naik ke lantai 2 rumah beserta seluruh perabotan rumah.
"Terus, yang nggak punya lantai 2, bagaimana Bu?" Sambil melewati beberapa rumah yang terlihat sangat memperihatinkan.
"Ya, ngungsi ke depan Neng!" Katanya, menunjuk perumahan depan.

Beberapa cuplikan kejadian hari itu masih lekat diingatan saya, memberikan gambaran jelas bagaimana sesuatu yang buruk yang dibiasakan maka akan "dimaklumi". Tidak, tidak perlu menduga tersebab faktor A, B, C, dan seterusnya! Sudah cukup kita saling menyalahkan! Yang perlu kita lakukan hanya perubahan, just it!

Tak perlu jauh-jauh! Karena boleh jadi, kejadian serupa akan terjadi di lingkungan kita juga beberapa saat ke depan, karena ulah tangan kita sendiri. Pada hakikatnya, kesadaran-lah hal yang paling dibutuhkan, tapi tidak hanya berhenti sampai level sadar saja, melainkan perlu pergerakan untuk benar-benar menciptakan perubahan.

JANGAN MEMBUANG SAMPAH SEMBARANGAN! Sedari kecil kita sudah tahu itu, semoga bisa benar-benar kita terapkan.

"Enak nggak kalau banjir seperti ini?" Tanya saya kepada anak-anak lagi.
"Enaaaakkk...!" Kata mereka serepempak.
Tawa saya pecah, toh memang dipikiran anak-anak yang polos begini, selalu ada sisi menarik dari setiap kejadian, termasuk banjir seperti ini, menjadi peluang bagi mereka untuk bisa puas main air. Tapi, apakah kita-kita yang sudah dewasa ini juga berpikiran yang sama? Semoga tidak! Karena saya rasa, tidak perlu saya paparkan lagi ketidakenakan dari main air hasil banjir. Lagipula, iya gitu kita masih niat main air? Depan umum? Haha.

Terakhir, "Kebersihan adalah sebagian dari iman", semoga pemahaman kata-kata ini juga sampai merasuk ke hati-hati kita untuk kemudian berbuah menjadi perbuatan. Lantas di kemudian hari, semoga kita bukan hanya bisa menjadi penggerak diri kita sendiri untuk dapat melestarikan kebersihan, tapi juga di lingkungan serta masyarakat luas. Dan tentunya, semoga kita semua terhindar dari "Beberapa Meter Kebiasaan" ini.


#Terima kasih kepada semua pihak terkait yang membantu gerakan pembersihan dan pembenahan kembali daerah ini. Semoga amal kebaikannya di terima di sisi-Nya. aamiin.


Oleh Rifa'atul Mahmudah

Posted by Unknown On 18.06 No comments READ FULL POST

Selasa, 06 Januari 2015

Naik turunnya semangat seringkali terjadi dalam keseharian kita. Tidak hanya dalam kehidupan pribadi tetapi juga terjadi dalam perjalanan sebuah keluarga, sebuah organisasi, bahkan sebuah Negara sekalipun. Mulai dari perkara kecil bahkan sepele sampai pada perkara besar yang menyangkut kepentingan orang banyak. Naik turunnya semangat ini adalah sebuah kewajaran yang akan dialami siapa saja dimana saja. Yang membedakannya adalah bagaimana individu itu mengatasai masa-masa turunnya semangat.

Sebelum kita membahas apa saja yang dapat kita lakukan untuk mengatasi terjadinya turun semangat, yuk kita lihat dulu apa saja penyebabnya. Turun semangat dapat disebabkan oleh beberapa hal sebagai berikut:
1. Tidak adanya teman untuk sama-sama berjuang dan saling mengingatkan.
2. Terjebak dalam rutininas yang monoton dan tidak ada variasi sehingga menyebabkan jenuh.
3. Masalah “berat” yang sedang menimpa diri.
4. Kurang meluangkan waktu untuk menghibur –menyenangkan- diri alias refreshing time.
5. Kurang meng-upgrade diri, meningkatkan kualitas diri.
6. Delele.

Dalam dakwah, juga terjadi naik turunnya semangat. Yang kemudian ketimbang mengevaluasi penyebab yang datangnya dari eksternal, alangkah lebih baiknya kita evaluasi terlebih dahulu penyebab internalnya, yaitu FUTUR. Futur adalah kondisi dimana keimanan kita sedang berada dalam fase turun. Dan hal utama yang menyebabkan futur adalah dosa atau maksiat yang kita lakukan. Kemudian didukung oleh-oleh faktor eksternal seperti yang disebutkan dalam poin-poin di atas.

Lalu hal-hal apa saja yang dapat kita lakukan untuk mengatasi futur atau turun semangat? Check it out!
1. Muhasabah
2. Taubat dari segala dosa
3. Mencari ilmu dan memperluas wawasan
4. Mengerjakan amalan-amalan iman
5. Memperhatikan aspek-aspek moral
6. Terlibat dalam aktivitas dakwah
7. Mujahadah
8. Berdoa dengan jujur kepada Allah Ta’ala

Kedelapan poin ini dapat sahabat-sahabat baca selengkapnya di buku Tarbiyah Dzatiyah (Abdullah bin Abdul Aziz Al-Aidan), karena yang akan saya kutip hanya poin ke enam.
Terlibat Dalam Aktivitas Dakwah 
a. Merasakan kewajiban dakwah
Dakwah itu hukumnya wajib, orang Muslim tidak punya alasan dan pilihan selain mengerjakannya. Dengan catatan, yaitu semuanya sesuai dengan kadar ilmu, kondisi dan potensinya
Hal ini dapat kita ketahui salah satunya dari sabda Rasulullah yang artinya : “Barangsiapa salah seorang diantara kalian melihat kemungkaran, hendaklah ia merubahnya dengan tangannya. Jika ia tidak dapat merubahnya dengan tangannya, hendaklah ia merubah dengan lidahnya. Jika ia tidak dapat merubah dengan lidahnya, hendaklah ia merubah dengan hatinya dan itulah iman yang paling lemah.”(HR. Muslim)
b. Menggunakan setiap kesempatan untuk berdakwah
c. Terus menerus dan tidak berhenti di tengah jalan
Sedikit namun terus menerus itu lebih baik, daripada banyak namun terputus di tengah jalan. Inilah prinsip utama dakwah.
d. Pintu-pintu dakwah itu banyak
Dakwah itu bisa dilakukan dengan banyak hal tidak melulu dengan ceramah. Misalnya senyum dengan jujur, perkataan yang baik, memberi hadiah, buku, kaset, pelajaran, ceramah, dan lain sebagainya.
e. Kerjasama dengan pihak lain

Rasanya kalau saya berpanjang-panjang disini, serasa malu karena maqomnya jauuuuuh masih di bawah untuk cas cis cus ces cos. Tapi mengingat kondisi angkatan kita yang sepertinya sedang dalam fase turun semangat dan bikin semua pada menghilang dan tak muncul lagi ke permukaan, saya rasa ini menjadi salah satu pertimbangan kenapa tema bangkit kembali dimunculkan. Hayu ah kawan kita bangkit kembali. Yuk eratkan lagi “pegangan tangan” kita dalam berjuang di jalan dakwah ini. Sekecil apapun, tak ada yang sia-sia. Partisipasi dan kontribusi dari jauh atau terlibat langsung, semuanya pasti ada balasannya dari Allah. Yuk ngumpul lagi, yuk merencanakan kegiatan lagi, yuk bikin kegiatan lagi. Yuk ah bareng-bareng, jalin lagi silaturahim yang terputus. Kita hubungi lagi teman-teman yang barangkali karena sudah lama tak muncul kemudian menjadi malu atau tak enak hati ingin bergabung lagi. 

Kita berbicara angkatan bukan untuk eksklusif, bukan untuk memecah belah tapi lebih mudah untuk saling mendekatkan diri dengan cara ini untuk kemudian bergerak demi kepentingan yang lebih besar. Insya Allah.


Oleh : Miming Murti Karlina
Posted by Unknown On 02.39 No comments READ FULL POST

Rabu, 03 September 2014

290913, aku berusaha menahan kelopak mataku yang berkali-kali jatuh mengatup. Berkomat-kamit apa saja, melirik ke kanan dan ke kiri untuk melatih otot mata berharap sadar segera menyergap. Tapi rasa ini terus memburu. Aku antara sadar dan tidak. Lalu pundakku dibelai lembut seorang teman, tersenyum tulus, meski wajahnya tampak sama, mengantuk.

Setelah kurang lebih 6 tahun lamanya tempat seperti ini tidak kujamah lagi. Aktivitas seperti ini dalam sebulan bahkan bisa dihitung jari. Kemarin takdir ini berlaku, membuat memoriku terkulai, terhampar satu-satu di dalam benak, di setiap langkah dan kejadian yang tercipta, tak jauh beda.

Pesantren, menjadi santri lagi.

Hawa ini kembali merasuk, perasaan yang kusuka, yang sering membawa aku ke ruang rindu. Bila sebelum-sebelumnya jejaring sosial menjadi teman bermalam minggu yang paling setia, maka malam ini tidak. Ada rasa di dada yang bergejolak lompat ketika bergabung menjadi salah satu diantara 183 orang di tempat ini. Tujuan, impian, dan harapan kita mungkin berbeda. Tapi tentu saja, tempat seperti ini akan memaksa diri-diri kita untuk menjadi lebih baik. Seperti kata guru, “Ada banyak pemuda-pemudi di luar sana, kuantitas waktunya boleh sama, tapi kualitasnya yang membedakan.”

Aku masih terduduk, suara itu mengalun dengan lembutnya sama seperti minggu lalu di tempat yang sama, iqamah, seperti disetting otomatis, aku ikut bangkit dari tempatku. Walau memang langkah kaki berat, sungguh sangat malas, kewajiban mengantarkanku ke tempat ini lagi, Tahajjud hingga waktu Subuh datang. Berdiri bershaf lurus dengan jemaah lainnya. Memulai dengan niat, dan beginilah lagi, tes…tes…satu satu air mataku jatuh menggenangi mukena, deras sekali. Sungguh, aku tak tahu apa yang terjadi, hanya saja yang kurasakan seluruh tubuhku menggigil takut, merasa hina, kerdil. Ayat-ayat yang dilantunkan sang imam begitu jelas memamntul-mantul di gendang telinga, menyusup pelan ke dalam dada. Perasaan apa ini? Sedih yang menentramkan. Dan kantuk yang tak tertahan tadi, menguap entah kemana. Aku asyik “sendiri”.

Malam ahad, menjelang subuh. Ritual ini menjadi kewajiban kita, para calon SANTRI SIAP GUNA. Pelatihan yang diadakan Sabtu-Ahad ini adalah kegiatan baruku. Ringan, tapi memang penuh godaan. Bermanfaat, tapi memang penuh tantangan. Bagi yang tidak terbiasa, maka bersusah-susah dahulu sepertinya memang pembuka jalan untuk memperoleh kedamaian yang luar biasa ini.

Dan ketika hal ini menjadi bagian dari diri, sesuatu yang diistiqomahkan. Maka bersiaplah dengan sensasi kesejukan hati yang luar biasa nikmatnya. Apalagi diimami dengan suara merdu yang jelas sekali pelafalannya, meski tak semua arti dari ayat-ayat yang dilantunkan itu bisa kupahami dengan baik, indahnya firman Allah merasuk ke hati. Itulah mungkin sebabnya, menjadi imam itu perlu yang terbaik dari yang ada.

Waktu berganti, diklat pun usai. Entah mengapa, rasanya ada yang ikut hilang bersamaan dengan kawan seperjuangan yang mulai sibuk satu-satu ke aktivitas semula. Tak ada lagi malam dimana kita saling membangunkan, menyapu lembut pundak teman yang terkantuk. Kemana shaf-shaf itu, dimana kakiku dan kakimu bersentuhan, rapat, menunduk, hening bersama? Masihkah kita menyapaNya meski tak diimami? Masihkah ada bulir-bulir bening dari mata yang jatuh menggenang di pipi? Atau masihkah kita berhasil mengalahkan kantuk yang menyergap untuk bertemu sang Maha? Ya, bahkan mungkin sekedar niat, apakah masih terbit di hati-hati kita? Masihkah kita istiqomah?


Ah...aku rindu. Kuharap ini bukan rasa kepunyaanku saja. Semoga kau pun merindu. Tahajjud kita. Lalu sepertiga malam sebentar kita bangun sama-sama, meski tak bersama. 

sumber gambar: http://www.tipspengetahuan.com.

Posted by Unknown On 08.04 No comments READ FULL POST

Minggu, 24 Agustus 2014


Betapa sering kita abai terhadap hal-hal kecil yang kita anggap remeh tapi sebenarnya penting, awal dari banyak hal besar. Sesuatu yang mungkin kita tak acuh karena merasa dampaknya tak terlihat. Padahal beberapa hal justru semakin awet rasanya saat orientasinya bukan hal-hal yang bisa dicerna oleh mata, dijudge pertama oleh yang terlihat. Seperti Kebaikan, ketulusan.



Unsung Hero. Iklan asuransi dari Thailand ini sudah dikunjungi lebih dari 19juta pasang mata di youtube. Mungkin bukti bahwa manusia memang senang benar dengan namanya kebaikan.

Tak semua orang seberuntung kita, dan tentu kita juga bukan makhluk sempurna yang bisa melakukan semuanya sendirian. Kita bermain di atas pentas yang sama dengan berbagai peran berbeda tapi saling mendukung. Yang kaya butuh yang miskin, yang miskin butuh si kaya, yang lemah butuh si kuat, yang kuat pun sebaliknya. Ayah, Ibu, Nenek, Kakek, Kakak, Adik, dan seluruh penduduk bumi memang diciptakan sebagai makhluk sosial. Yang kesosialannya tidak melulu bisa diukur dengan sesuatu yang nampak, tapi juga dapat terpenuhi melalui kelapangan hati, kebahagiaan yang diperoleh.

Bahkan video ini bukan hanya sekedar menggambarkan keterkaitan manusia satu dengan yang lain, tapi lebih luas kepada tanaman, hewan, sekitarnya. Menampilkan bahwa kebaikan bukan hanya dapat dirasakan manfaatnya oleh manusia. Ia-nya menyapu bersih seluruh alam.

Ah, bukankah kita terlalu senang dengan kepopuleran? Ingin dibilang "sebagai", selalu ingin tampil, dipuji, disanjung, senang membuat kepala "besar-besar". Naluri? Ya, mungkin memang demikian. Tapi percayakah kita bahwa banyak hal yang justru karena tidak terekspos, tidak ditujuk-tunjukkan, dipamerkan, dicerita kanan kiri, kemana-kemana, malah menambah nilai plusnya. Ianya menjaga kesucian si niat, tetap bernama "kebaikan" bukan berganti menjadi "modus".

Saat kita berbuat bukan tentang apa yang kita dapatkan, apa yang bisa kita peroleh, namun apa yang bisa kita berikan. Saat seluruh raga kita set untuk peka terhadap kesusahan yang lain, lalu berbuat. Saat kita menanggalkan baju keegoan, keuntungan, keserakahan, lalu menggantinya dengan jubah ketulusan. Maka bersiaplah merasakan sensasinya, kebahagiaan yang menjalar keseluruh sendi. Melihat video ini saja, membuat saya dan mungkin kita semua tersenyum-senyum lalu terharu, menghadirkan lonjatan rasa damai yang meluap. Lantas, bagaimana bila kita pelakunya? Berapa kali lipat rasa ini memenuhi hati kita?
Dan ajaib sekali, seperti video di atas dan pada kehidupan nyatanya, kebaikan, ketulusan adalah sesuatu yang sifatnya menular.
Mungkin inilah yang dinamakan keterkaitan hati, sesuatu yang jatuh dari hati ke hati. Lalu terpancarkan lewat tindak tanduk.

Detik-detik paling mengharukan dari video ini mungkin memang adalah detik dimana pada akhirnya terjawab sudah pertanyaan diawal cuplikan
"Apa yang ia peroleh dengan melakukan ini setiap hari?"
"Yang dia terima adalah emosi. Dia menjadi saksi kebahagiaan. Mencapai pemahaman yang lebih dalam. Merasakan cinta. Menerima apa yang tak dapat dibeli oleh uang. Dunia menjadi lebih indah."

Mungkin, kini saatnya untuk kita berbuat serupa, sekarang, ya sekarang. Meski siapa bilang ini mudah? Move on memang perlu tekad yang kuat. Belum lagi di tengah jalan akan banyak godaannya, untuk istiqomah itu bukan gampang. Tapi, memulai sesuatu yang baik, lantas menjadi kebiasaan baik adalah keharusan, bukan pilihan, karena hanya orang-orang baiklah yang akan beruntung, menjadi pemenang dalam kontes kehidupan berhadiah keindahan akhirat. Kecuali...kita hanya ingin jadi pemain ekstra yang hidup dan mati tiada pengaruhnya.

Tanyakan si hati, "Dan dalam hidupmu, apa yang paling kau inginkan?"
Posted by Unknown On 20.26 1 comment READ FULL POST

Jumat, 15 Agustus 2014


Teman-teman mungkin sudah banyak cerita tentang diklat kita. Saya ingin berbagi cerita mengenai pengalaman saya menjadi pelatih SSG 27.

Semua dimulai dari percakapan saya dengan Atik Purwasih yang mengajak saya untuk menjadi pelatih. Waktu itu tanggal 5 Januari 2014, ketika kita semua sedang berada di Eco Pesantren menerima sorban dari guru kita Aa Gym. Kita berdiskusi tentang pembentukan pengurus SSG 26. Dan di kesempatan itu, abah dan eyang kembali mendata siapa-siapa yang ingin ikut dalam corps pelatih dan berlatih lagi di diktuktih. Saya yang sudah memikirkan ini sejak pasca pelantikan SSG 26. Satu hal yang mengganjal saya untuk ikut diktuktih ialah tidak makan seminggu di hutan alias survival di hutan. Tapi ketika berbincang dengan Atik yang juga akrab dengan salah satu pelatih kita bilang kalo tidak akan ada survival di hutan selama seminggu itu. Itu untuk satgana. Saya lega. Dan saya langsung bergabung dengan kumpulan teman-teman yang akan bergabung di diktuktih. Semula saya ingin ikut salih tapi berubah pikiran akhirnya ikut jadi pelatih.

Diklat lanjutan diktuktih dimulai sejak tanggal 11 Januari 2014. Pertama awalnya aneh ikut diktuktih: 1) barisan yang biasanya panjang sekarang sepi hanya beberapa orang saja; 2) pelatih ada yang ikut diklat diktuktih, rada aneh jadi peserta bareng-bareng sama pelatih kita dulu; 3) hari sabtu biasanya kan pake PDH, pas di diktuktih pake PDL. Di sini saya belajar banyak yang saya rasa tidak kita dapatkan di diklat SSG 26. Mungkin karena banyaknya muatan materi yang kita dapatkan ketika diklat tidak sebanding dengan waktu belajar kita yang hanya 11 pekan. Nah hal yang tidak ada itulah yang akan saya sharing di sini...

Bermula pada diklat diktuktih pekan 2. Sabtu malam kami diminta mengisi angket terbuka yang isinya: 1) Tuliskan kekurangan dan kelebihan pelatih; 2) kekurangan orang tua. Kami sempat berdiskusi mengenai angket ini. Pertanyaan yang rada aneh, kenapa mau tau kekurangan orang tua kami. Ada perasaan was-was dalam pikiran kenapa pelatih minta disebutkan kekurangan dan kelebihan. Apakah mereka mau minta saran ataukah… ah entahlah. Dan kami pun sibuk sendiri-sendiri memikirkan apa yang akan kami tulis. Lalu kami jalan malam ke Eco Pesantren simulai sekitar pukul 1 malam dan harus sampai di sana pukul 2. Paginya, kami diminta mengumpulkan kertas jawaban atas pertanyaan yang semalam diberikan pelatihya. Selang beberapa waktu, kami “disidang” karena berani sekali menuliskan kekurangan orang tua dan pelatih. Dan disinilah kami belajar ta’lim muta’alim, sikap khidmat kepada guru (pelatih juga guru), sikap menghormati orang tua dengan segala kekurangannya. Kami diiqob berendem di kolam Eco yang super duper dingin. Disuruh nyelup sampai beberapa hitungan dan yang paling lama nyelupin kepalanya di kolam yang boleh duluan keluar kolam. Ini pelajaran yang sangat penting bagi kita yang sudah belajar di bangku sekolah bahwa menghormati kekurangan orang tua dan guru itu amatlah penting.  Bahkan abah menceritakan seorang imam besar Islam yang masih dengan antusiasnya menyimak pelajaran dari gurunya walaupun gurunya sudah berulang kali menjelaskan mengenai hal itu. Saya merasa terpukul karena mengingatkan saya kepada kenangan ketika berada di sekolah. Begitu bandel dan tidak hormatnya kepada guru. Bahkan sepertinya hal itu balik ke saya karena sekarang saya menjadi guru dan merasakan bagaimana tidak enaknya ketika ada siswa yang tidak menghormati walau penghormatan dari makhluk mah ga penting. Tapi, di sisi lain kita akan belajar bahwa perlakukanlah kebaikan kepada orang lain sebagaimana kita pun ingin diperlakukan seperti itu.

Pengalaman lain yang ingin saya bagi ialah pengalaman mengangkat gallon dan membawa beberapa tas berat yang dipanggul dengan menggunakan bamboo. Ini pengalaman yang tak terlupakan sepanjang sejarah diktuktih hhee…

Selepas materi malam, kami bukannya istirahat tetapi disuruh jalan malam ke Eco. Ketika itu sekitar pukul 10.30 malam. Ketika briefing hari kamis kami memang sudah diberitahu akan ke Eco. Akhwat membawakan tas ikhwan sedangkan ikhwan membawa tenda pleton. Yang tidak terpikir ialah membawa gallon. Pertama yang membawa gallon adalah saya. Ketika masih berbaris di lapangan futsal, saya sudah merasakan beratnya isi gallon yang diisi penuh dengan air. Kenapa belum berangkat?” Pikir saya yang sudah merasa berat menahan berat gallon di tangan saya. Dan benar saja, ketika baru berjalan di depan toko-toko dekat loket karcis parkir DT, tangan saya sudah tidak kuat membawa gallon. Kemudian digantikan oleh seorang peserta lain (saya lupa). Kemudian saya gantian memanggul beberapa tas berdua dengan bamboo bersama satu teman lagi. Jumlah akhwat memang ganjil, sehingga satu orang membawa gallon, dan sisanya berpasangan memanggul tas ikhwan yang isinya entahlah apa, berat semua… Kalian tahu, saya kira kami tidak akan bisa sampai ke Eco karena kami keseringan berhenti, beban yang dibawa terlalu berat dan tahulah ya jalan ke Eco itu menanjak. Emosi diaduk-aduk pula oleh pelatih. Dalam keadaan letih pun kami masih dibentak. Namun begitu, pelatih juga baik kok, kami dikasih air minum dan permen biar kuat. Satu tikungan lagi, pikirku. Ya, karena sudah hafal rute ke Eco, jadi sudah tau tinggal satu tikungan lagi untuk sampai ke Eco. Lalu tiba-tiba abah memutar rute. Kami melewati jalan yang lurus yang rutenya lebih jauh. Sempet nanya dalam hati kok lama banget nyampenya. Pengen stop, istirahat lagi.

Sesampai di Eco, kami bagi tugas. Ada yang menjaga tas di lapangan atas, ada yang istirahat di masjid. Perjalanan malam yang melelahkan. Paginya kami masak seperti kita masak pas pelantikan pake nesting. Tapi sayangnya kami lupa bawa beras.. Jadilah kami vegetarian walau pada akhirnya pelatih memberi kami nasi karena tahu kalau beras kami ketinggalan di mako.

Hikmah selama perjalanan yang membawa beban berat itu ialah emosi kami dilatih untuk tetap tenang walaupun ada bentakan dari luar tapi kestabilan emosi dan sabar harus tetap terjaga. Pantang kotor hati. Namun di sini juga terlihat keegoisan masing-masing dari kami. Kami sudah berusaha untuk bergantian membawa gallon dan tas tapi dari kami juga ada yang memang tidak kuat untuk terlalu lama membawa beban berat tapi semuanya bahu membahu menguatkan dan tidak saling menyalahkan. Lagi-lagi keegoisan menjadi kotoran hati. Penyakit inilah yang ingin dikikis dari pelatihan ini. Mungkin kita juga sudah mengalami hal ini ketika longmarch ketika pelantikan. Dan teman-teman pasti bisa merasakan sendiri bagaimana ketika perjalanan jauh dengan beban yang berat dapat menunjukkan sifat asli seseorang.

Selanjutnya ketika pelantikan.
Beberapa hari sebelum berangkat ke Bukit Unggul pada hari jumat, kami sudah sibuk mencari barang2 yang digunakan untuk camping. Malam ketika kajian ma’rifatullah pun kami masih riewuh packing. Hingga tibalah esoknya hari jumat kami berangkat ke Bukit Unggul. Medan longmarch ke sana tidak terlalu jauh seperti ke Cijanggel. Kami pun ketika longmarch disuguhkan dengan pemandangan bukit2, sama seperti ketika ke Gunung Papandayan. Replica Bukit Unggul banget.. Akhirnya kami pun masuk hutan dan berhenti di dekat sungai untuk wudhu. Lalu melanjutkan perjalanan kembali. Hingga tiba di sana kami sholat, makan siang, dan mendapatkan materi survival yakni membuat bivoac alam dengan menggunakan tanaman-tanaman yang ada di hutan. Hutan di Bukit Unggul masih alami, tidak seperti di Cijanggel yang memang sengaja ditanam oleh pihak perhutani. Seusai mendapatkan materi tersebut, kami langsung praktek membuat bivoac alam perkelompok. Ketika malam tiba, kami mendengar banyaknya suara panitia. Esok paginya kami biasalah ya kalo pelantikan tanpa nasi rames mah bukan pelantikan namanya hhee… Seusai makan, kata panitia itu adalah nasi terakhir kami, setelah ini kami akan menjadi vegetarian. Kami mendapat materi survival: mencari makan di hutan. Kami belajar banyak tanaman yang boleh dimakan dan yang tidak boleh dimakan serta cara pengolahannya. Malamnya kami solo bivoac. Solo bivoac kali ini lebih enakeun dibanding pas pelantikan kita karena sudah bisa buat bivoac yang bisa menahan air hujan masuk serta digabung dengan beberapa daun pisang untuk menutupi bagian ponco yang disinyalir akan kemasukan air kalau hujan. Hampir seharian tidak makan nasi membuatku puyeng dan ketika solo bivoac pun saya ga selera makan pelepah pisang yang sudah saya rebus.

Paginya kami segera disuruh bongkar bivoac dan berbaris di “lapangan”. Kami yang hampir 24 jam tidak “ketemu”, nasi pun diberikan bubur sereal oleh panitia. Seusai makan, kami “disidang” tentang ghibah, khususnya ghibah kepada pelatih. Terjadilah lautan air mata di sana, hhee #lebay. Ditanya apa motivasi jadi pelatih dan kami dihadapkan dengan amanah lebih dari 300 peserta yang mendaftar di angkatan 27 ini. Kami disidang secara terbuka dan diminta menyebutkan hal-hal yang sering kami ghibahi kepada pelatih. Nasihat abah kala  itu ialah: ga peduli apa yg dilakukan oleh orang lain, yang penting hati kita. Akan saya perjelas, maksudnya ialah ketika kita mendengarkan seseorang menasehati kita untuk melakukan kebaikan ataupun melarang kita  melakukan suatu keburukan tetapi pada kenyataan di lapangan kita melihat orang yang menasehati kita itu tidak melakukan kebaikan seperti yang ia anjurkan ataupun ia malah melakukan keburukan yang sudah ia larang maka janganlah terbersit di hati kita kotoran hati dengan mengatakan “lho kok gitu? Bukannya dia sendiri yang ngelarang kok malah dia yang ngelakuian” ataupun perkataan “bukannya dia yang nganjurin tapi dia sendiri ga ngelakuin” . Yang terpenting kita menuruti nasehatnya, masalah orang tersebut mah urusan dia ke Allah karena Allah Berfirman dalam Surah As-Saff: 2-3 “Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan apa-apa sesuatu yang tidak kamu kerjakan? (itu) sangat dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.”  Hal terbaik yang bisa kita berikan ke orang itu ialah mengingatkannya agar mengerjakan apa-apa yang telah ia katakan, bukan dengan mengghibahinya…!!!

Dalam kehidupan kita akan ada banyak orang-orang yang menasehati tapi ia tidak mengerjakan apa yang ia nasehatkan, ia melanggar apa yang ia larang. Ketika jadi pelatih, inilah yang kami rasakan. Ketika menyuruh peserta dzikir maka kami terlebih dahulu haruslah berdzikir. Menyuruh peserta pantang mengeluh maka kami pun tidak boleh mengeluh dengan tugas kami sebagai pelatih. Bahkan mengingatkan peserta untuk jaga pandangan pun kami masih harus banyak introspeksi diri sebelum mengingatkan akan hal itu. Manusia banyak sekali tergelincir dengan godaan syaithan yang ingin menjadikan umat manusia lupa dengan nasehat-nasehat yang ia berikan. Bagaimanapun manusia bukan malaikat, masih ada banyak hal yang harus ditaubati dan tugas kita harus saling mengingatkan ketika ada teman yang tergelincir ataupun ada tanda-tanda akan futur iman makan harus segera diajak kembali ke jalan Allah. Saling menyemangati dalam beribadah serta tak lupa saling mendoakan satu sama lain.

Inilah sepenggal kisah yang dapat saya ceritakan selama saya ikut dalam diklat lanjutan diktuktih I. Semoga di lain waktu bisa menceritakan pengalaman ketika menjadi pelatih di SSG 27 yang lalu J


Oleh : Miftha Indasari
Posted by Unknown On 00.45 No comments READ FULL POST

Minggu, 25 Mei 2014

Sakit, Sebuah keadaan yang mengindikasikan bahwa ada sesuatu yang tidak beres dengan tubuh kita, seperti alarm yang pake pengingat, “hai, ada yang koslet!” Sebuah keadaan yang tidak enak, tidak nyaman, pokoknya yang tidak-tidak, hee..Tubuh dan hati menolak dengan keras. Emm, definisi lainnya saya rasa yang baca mungkin lebih paham. hee..

Tapi, ya.. sebagai makhluk, seberapa keras pun kita ogah dengan keadaan seperti itu, tetap saja seringkali terjadi, bahkan berulang-ulang, meskipun segala macam jurus, tips trik jitu sudah kita terapkan.

Namun, bukan berarti yang tidak menyenangkan itu selalu yang buruk-buruk kan? Banyak hal yang justru yang begitu itulah yang membuat kita lebih keren dari sebelumnya. Katanya, sakit itu penggugur dosa, So, kalau begitu ini menyenangkan, bukan? And that’s right! ini bisa jadi ajang untuk MEMPERKEREN DIRI.

Caranya?

Selalu ambil yang positifnya, lihat hikmahnya, kumpulkan pelajaran sebanyak-banyaknya dari keadaan ini. Berikut beberapa diantaranya:

1.    Sakit merupakan ajang melatih ketahanan diri, ketabahan hati. Cengeng g sih? Manja g sih?
Memang saat seperti ini, penderita cenderung ingin diperhatikan lebih dari biasanya, maybe karena merasa lemah, letih, lesu, loyo, lunglai, merasa tidak berdaya, dan sebagainya, yang sering mengikuti si pesakit. Tapi, justru itu, disinilah letak pelatihannya, jika dalam keadaan ini saja kita masih bisa bertahan, tidak lebay, tidak cengeng, tidak manja, dan sejenisnya, apalagi dalam keadaan biasa, normal. Pastinya lebih tangguh bukan?

2.    Belajar menghargai nikmat kesehatan.
Nah, pada kondisi ini, biasanya kita baru sadar, bahwa MasyaAllah...nikmat Allah yang satu ini tuh, benar-benar anugerah yang luar biasa, patut disyukuri. Begitulah, kata para tetua juga apa, “kadang sesuatu itu baru berasa berharga saat kita sudah tidak memilikinya”.
Sakit itu bisa menjadi pengalaman, bahwa persaan ini sungguh tidak mengenakkan, maka jangan coba-coba untuk memancingnya, jaga diri, jaga kesehatan, ikuti aturan tubuh seharusnya. Ini amanah loh! And then..saat sudah bisa menghargai, maka InsyaAllah perasaan keren akan segera hinggap. Hee..

3.    Sabar dan ikhtiar yang tak putus-putus
“Ngapain sih orang minum obat? Perasaan sakit saya gini-gini aja, g ada perubahan. Udah ah! Sekalian g usah aja!” Beberapa orang sakit terkadang cenderung mengeluarkan kalimat-kalimat ini. Hati-hati! Ini bisa jadi indikasi bahwa kita sedang dalam masa “putus asa”! Padahal, sudah sangat jelas bahwa putus asa itu tidak disenangi oleh sang Pencipta.
Maka disinilah dilihat, siapa saja yang punya daya kesabaran yang diatas rata-rata, siapa yang gigih dalam berusaha, siapa yang tidak. Dan bukankah sebagai orang yang beriman patutnya kita percaya, bahwa selalu ada jalan untuk orang yang mau merubah nasibnya, yang mau memperjuangkan hidupnya? So, berjuang terus sampai akhir! ^_^

4.    Ngeluh? Ngapain?
Inilah salah satu hobi yang digeluti para pesakit, mengeluh, mengeluh dan mengeluh. Padahal kepada siapa? Entahlah, mungkin diri sendiri juga tak tahu harus dialamatkan kemana, karena pada kenyataannya, banyak penyakit itu timbul karena ulah perbuatan kita sendiri. Jangan pikirkan dulu soal kebiasaan kita makan ini dan makan itu yang tidak jelas nilai gizinya, kandungan buruknya, tapi coba pikirkan dosa apa yang sudah kita perbuat. Ajang muhasabah nih!
Dan..emang ada orang yang saat ngeluh, ngambek, tidak terima, ngamuk-ngamuk, tiba-tiba penyakitnya udahan aja! Takut, lari terbirit-birit! Ngacir dan menghilang? Iya, ada ada...dalam hayalan tapi...haha. Justru, ngeluh itu seringkali membawa dampak buruk bagi kesehatan, gimana g, bila hati kian kotor, pikiran pun jadi sempit. Bahkan dampak buruk dari ngeluh kadang semakin gede’ saat orang-orang di sekitar kita menjadi tidak nyaman dengan kelakukan kita ini, bisa-bisa bukan sakit yang pergi, malah karib kerabat yang kabur.
Maka sudahlah..hadapi, hayati, dan nikmati saja. Ikhlaskan, maka semoga Allah meringankan beban, melapangkan dada, dan semuanya kembali baik-baik saja. Aamiin.

5.        Sakit, bikin yang jauh jadi dekat, yang dekat lebih dekat lagi
Mungkin, ada beberapa karib kerabat yang akan lebih care dengan kita, yang dulunya berasa cuek, saat kita lagi sakit, tiba-tiba datang menjenguk, bahkan jauh-jauh dari berbagai penjuru. Pernah ngerasain? Coba deh! *eh..ups, hehe. Ada pula temen or keluarga, yang ini itu diurusin sama dia, mau ini, mau itu akan segera dipenuhi. Yang deket semakin deket. Itulah kerennya sakit.
Dan akan menjadi lebih keren lagi, kalau ajang ini dijadikan ajang mendekatkan diri kepada Allah, sang Pengasih, Penyayang. Yang dulu kita jauh, jarang do’a, jarang ibadah, suka lupa melibatkan Ia dalam segala aktivitas, jadi mawas diri. Yang udah dekat, tambah dekat lagi, bahwa betapa sayangNya Ia kepada kita, selalu mengingatkan kalau ada hal-hal yang kita lalai di dalamnya, seperti menjaga amanah sehat ini.

6.        Tetap tersenyum, tetap berbuat baik, tetap memberikan manfaat sebanyak-banyaknya.
Nah, kalau yang ini, mungkin hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang level kekerenannya udah akut, tingkat mahir. Hee. Bayangkan, disaat sakit itu cenderung, membuat orang lain mengubah mimik wajah sekusut-kusutnya, seiba-ibanya, orang-orang jenis ini, masih tetap tampil menawan dengan senyuman, meski mungkin kadang pucat tak bisa ditutupi, mungkin beberapa kawan akan bertegur “Sakit yah? Kok pucat gitu?” Dan dengan kerennya orang-orang ini akan menjawab “Ah, g....biasaaa...dikit doank” padahal udah oleng tuh. Pernah ketemu saja temen kayak gini? Beri jempol...hehe.
Terus ada lagi nih, jenis kekerenan selevel lebih tinggi, ketika sakit, ada... saja orang yang saat kita minta bantuannya, dia masih saja mau menolong, meski dianya juga sedang susah, dia tetap saja berbuat sebaik yang dia bisa, mengusahakan yang terbaik untuk saudaranya, teman, sahabatnya. Disaat yang lain, sedang sehatnya saja susahnyaaaa minta ampun untuk diharapkan kesediaannya membantu. Nah, sedang orang-orang jenis ini sakit saja, sifat heronya masih ada, apalagi saat normal yah! Subhanallah...mari beri upplause! :D
Finally, menurut saya (yg g sepakat mah urusan anda, hehe), jenis orang yang terkeren saat sakit, yang t.o.p b.g.t. adalah yang masih bisa memberi manfaat seluas-luasnya. Seakan-akan bilang, “ayo..ini aku, manfaatkan kawan, manfaatkan!” Disaat orang lain sibuk dengan celoteh, protes, merasa g suka, tentang “Kenapa sih aku dimanfaatin gini? Emangnya aku apaan? Boneka? Robot?” Orang-orang jenis ini malah seakan melemparkan diri ke dalam jurang-jurang kemanfaatan itu. Seakan hidupnya hanya untuk bermafaat bagi orang lain, cukup itu, untuk dirinya sendiri mah urusan Ilahi. Weits, jago! Dan bukankah memang sebaik-baiknya manusia adalah yang paling banyak manfaatnya bagi sesama? Khairunnas anfa’uhum linnas.
Patut dikalungi penghargaan nih! Hee..


So, mau keren? Mungkin point 1-6 bisa dicoba, dan bila masih berasa kurang, silahkan ditambahkan. Semangat! Mari jadi Keren! Hehe...^_^


Oleh Rifa'atul Mahmudah
Posted by Unknown On 18.30 No comments READ FULL POST
  • RSS
  • Delicious
  • Digg
  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin
  • Youtube